Selasa 15 Oct 2019 22:28 WIB

Pemkot Palu akan Bekali ASN Penangkal Radikalisme

Penangkal radikalisme penting dikuasai ASN.

Ilustrasi Pegawai Negeri Sipil (PNS)
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Ilustrasi Pegawai Negeri Sipil (PNS)

REPUBLIKA.CO.ID, PALU—  Wali Kota Palu, Sulawesi Tengah, Hidayat mengatakan aparatur sipil negara (ASN) di jajaran pemerintahannya perlu dibekali pemahaman tentang menangkal paham radikalisme yang dapat memecah belah kesatuan dan persatuan.

"Paham radikal sudah pasti tidak sejalan dengan pemerintah dan agama, olehnya aparatur paling tidak memahami gejala-gejala tersebut yang sewaktu-wakyu bisa masuk di lingkungan sehari-hari," kata Hidayat saat menghadiri kegiatan pembekalan menangkal paham radikalisme di Kota Palu, Selasa (15/10).

Baca Juga

Menurut Wali Kota, menangkal paham radikal sejalan dengan keinginan Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah sebagai upaya pencegahan sejak dini masuknya aliran dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan yang tidak sejalan dengan Undang-Undang Dasar tahun 1945.

Dia menilai, ideologi yang selalu menggunakan cara-cara kekerasan, menyebar teror dan tidak mau tunduk terhadap Undang-Undang serta menganggap diri dan atau kelompoknya paling benar sudah pasti ingin merusak tatanan bermasyarakat.

Guna mengefektifkan bentuk pencegahan, maka pemerintah melalui Satuan Tugas Kebersihan, Keindahan, Keamanan, Ketertiban dan Kenyamanan (Satgas K5) yang terdiri dari unsur pemerintah setempat, TNI/Polri dan masyarakat lebih meningkatkan koordinasi terlebih pegawai di masing-masing instansi.

"Semua pihak harus bersinergi mencegah penyebaran paham-paham seperti ini hingga kelapisan paling bawah. Di pemerintahan, aparatur memiliki peran yang sama mencegah pengaruh ideologi itu masuk," kata dia menambahkan.

Selain itu, di tingkat masyarakat, tokoh agama dan lembaga adat perlu diberi peran yang luas menjaga nilai-nilai yang selama ini dijunjung tinggi oleh masyarakat Kaili sebagai etnis mayoritas di Kota Palu yaitu nilai kekeluargaan, toleransi, dan kegotongroyongan.

"Kita sebagai umat Muslim seharusnya mencontoh perilaku dan perbuatan Nabi Muhammad SAW yang mana akhlak beliau sangat baik serta santun terhadap semua orang meski dia dicaci dan dihina," tutur Hidayat.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement