Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Ketika Alam Menangis

Sabtu 28 Sep 2019 03:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Perahu nelayan melaju menerobos kabut asap yang menyelimuti Kota di Banda Aceh, Aceh, Selasa (24/9/2019).

Perahu nelayan melaju menerobos kabut asap yang menyelimuti Kota di Banda Aceh, Aceh, Selasa (24/9/2019).

Foto: Antara/Irwansyah Putra
Mari kita lestarikan alam ini sebagai tanda syukur atas karunia Ilahi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hasan Basri Tanjung

Diriwayatkan oleh Imam An-Nasai bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, "Tak seorang pun yang membunuh seekor atau lebih burung pipit tanpa hak, kecuali Allah akan meminta tanggung jawabnya". Sebenarnya, tidak hanya manusia, tetapi juga pepohonan, hewan yang melata, dan burung-burung yang terbang adalah makhluk Allah yang wajib dilestarikan (QS 6: 38).

Tulisan ini sebagai ungkapan keprihatinan atas duka saudara kita di Sumatra dan Kalimantan. Bencana asap pekat akibat pembakaran hutan dan lahan telah berdampak luas dan masif hingga negeri tetangga. Koran ini pun menurunkan beberapa liputan sebagai tanda simpati terhadap bencana alam dan sosial yang melumpuhkan urat nadi kehidupan tersebut. Kabar yang paling mengharukan adalah "Korban tanpa Nama" (edisi 20/20/2019), seorang bayi berusia tiga hari meninggal dunia di Pekanbaru, Riau, dan belum sempat diberi nama oleh orang tuanya.

Allah SWT telah mengaruniakan alam nan indah dan kaya kepada negeri ini. Daratan hijau yang terhampar, lautan nan memesona dan sumber daya alam yang melimpah dengan beragam flora-fauna, bak serpihan surgawi yang dititipkan di muka bumi (QS 34: 15). Tugas dan tanggung jawab kekhalifahan manusia adalah memakmurkan dan menjaga dari 'tangan-tangan Jahil' yang hendak merusaknya (QS 2: 30, 11: 61).

Memang, manusia tak pandai bersyukur dan ingkar. Keangkuhan dan keserakahan telah merasuk jiwa sehingga tega berbuat zalim terhadap alam. Hutan ludes dibakar, ekosistem rusak, hewan-hewan mati terpanggang, udara penuh asap, korban terkapar dan berjatuhan. Benarlah firman Ilahi, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan (jahil) manusia..." (QS 30: 41). Padahal, kita telah diingatkan agar jangan berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah perindah (QS 7: 56).

Ketika terjadi perusakan alam, tentu yang menjadi korban bukan hanya pelakunya, melainkan siapa saja yang ada di sekitarnya. Allah SWT telah menegaskan, "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu... (QS 8: 25). Quraish Shihab dalam Tafsir Al- Misbah menjelaskan, "... hindarilah datangnya siksa yang bila ia datang sekali-kali tidak menimpa secara khusus orang-orang yang zalim, yakni yang melanggar dan enggan memperkenankan seruan rasul di antara kamu. Karena itu, jangan lesu atau jemu mengajak kepada kebaikan dan mencela kemungkaran".

Karena itu, Nabi SAW memberikan tuntunan, "Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya, bila ia tidak mampu, dengan lisannya, dan bila ia tidak mampu juga, dengan hatinya. Demikian itu adalah selemah-lemah iman (HR Muslim).

Jika kezaliman dilakukan dengan "kasabat aidiin naas" (tangan-tangan jahil/korporasi), mencegahnya pun harus dengan "bi yadihi" (tangan penguasa/pemerintah). "Tidak satu masyarakat pun yang melakukan kedurhakaan, sedang ada orang yang mampu menegur/menghalangi mereka, tetapi dia tidak melakukannya, kecuali Allah akan menjatuhkan bencana yang menyeluruh atas mereka" (HR Ahmad). Di sinilah dakwah (amar ma'ruf nahi mungkar) wajib hadir sesuai kapasitasnya (QS 3: 104).

Akhirnya, semua kezaliman (kejahatan) dan pengabaian terhadap amanah kepemimpinan, akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak (HR Bukhari). Mari kita lestarikan alam ini sebagai tanda syukur atas karunia Ilahi dan agar ia tidak menangis lagi. Allahu a'lam bish-shawab. ¦ 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA