Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Satire 'Hari Santri' Identik Dengan 'Hari Taliban'?

Selasa 15 Oct 2019 04:31 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Santri Pondok Modern Gontor - Ponorogo, Jawa Timur sedang Mengaji bersama

Santri Pondok Modern Gontor - Ponorogo, Jawa Timur sedang Mengaji bersama

Foto: REPUBLIKA
Satire 'Hari Santri' Sama Dengan 'Hari Taliban'?

Oleh:  Menachem Ali, Doseh Philology Universitas Airlangga

Lebih baik sekarang kaum Muslim Indonesia atau Muslim Asia Tenggara diharamkan memakai istilah "santri" atau "cantrik", karena keduanya itu istilah Hinduisme, khususnya Hindu Jawa? Ataua pada saat sekarang pakailah istilah khas Arab saja طالب ("tholibun") atau "taliban"?

Maka, "Hari Santri" diganti saja menjadi "Hari Taliban" atau nama "pondok pesantren" diganti saja menjadi "pondok taliban." Hal ini lebih bagus sepertinya.

Menurutnya, Quran terjemahan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu itu sesat dan menyesatkan, karena menggunakan istilah berbau Hinduistic. Seharusnya tidak perlu memakai istilah "sorga", karena itu benar-benar mengusung konsep teologis yang bernuansa Hinduistic. Kitab suci Weda Mahabharata, terutama pada parwa terakhir, saat Yudisthira naik ke sorga tertulis nama parwa-nya yang disebut "Swarga-rohanika parwa."

Jadi kalau Alquran terjemahan bahasa Melayu memakai istilah "sorga" maka itu SESAT dan mendekati kekafiran. Menurut ustadz zaman "now" hal itu katanya bertentangan dengan ajaran Islam. Menurutnya, kesesatan berpikir dalam memahami Quran yang dicampur dengan pola berpikir khas Hinduisme ini sudah terjadi sejak lama, sejak zaman Islam masuk ke Nusantara di masa awal; dan kesesatan para ulama Nusantara itu tidak perlu diikuti oleh umat Islam yang mau kembali ke jalan Salaf.
Lihatlah Quran terjemahan bahasa Melayu ini, الجنة (al-jannah) diterjemahkan سوركا (baca: "sorga").

Meskipun teks terjemahannya ditulis dengan huruf Jawi (Arab-Melayu). Quran terjemahan bahasa Melayu yang menggunakan huruf Jawi (Arab-Melayu) semuanya menyesatkan, karena banyak kosakata Sanskrit yang diadopsi dari tradisi Hinduisme. Oleh karena itu, semua negara di Asia Tenggara, terutama Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Indonesia yang kaum Muslimnya menggunakan Quran terjemahan bahasa Melayu, maka hal itu sebenarnya terkait dengan penyebaran kesesatan.
Inilah sebuah kesesatan yang nyata.

Namun, benarkah tuduhan mereka itu dapat diuji sesuai dalil? Bukankah agama itu dengan dalil yang shahih?


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA