Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Maluku Diguncang Gempa, ACT Ajak Warga Bantu Para Penyintas

Kamis 10 Okt 2019 16:59 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Gita Amanda

Sejumlah pengungsi korban gempa bumi memperbaiki tenda yang ditempatinya di lokasi pengungsian Desa Waai, Pulau Ambon, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu (5/10). Para pengungsi tersebut mengungsi ke hutan dan menempati tenda-tenda yang dibangun sendiri pascagempa yang mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya, Kamis (26/9).

Sejumlah pengungsi korban gempa bumi memperbaiki tenda yang ditempatinya di lokasi pengungsian Desa Waai, Pulau Ambon, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu (5/10). Para pengungsi tersebut mengungsi ke hutan dan menempati tenda-tenda yang dibangun sendiri pascagempa yang mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya, Kamis (26/9).

Foto: ANTARAFOTO/Izaac Mulyawan
Mayoritas warga enggan kembali ke rumah karena khawatir terhadap potensi tsunami.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gempa bumi kembali mengguncang Maluku Tengah tepatnya pada Kamis (10/10), pukul 13.39 WIT. Gempa berkekuatan magintudo 5,2 ini cukup membuat panik warga dan mengungsi ke titik-titik pengungsian terdekat.

Kepanikan warga terlihat di RT 1, Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Sejumlah penduduk membawa beberapa harta benda mereka dengan mengendarai sepeda motor dan pergi menuju Puncak Menderita, salah satu titik pengungsian di Desa Liang.

"Tadi saya sedang di rumah lalu terdengar suara kencang. Suami yang di luar, panggil saya untuk keluar. Gempanya goyang sekali. Tadi kami langsung ke atas sini (lokasi pengungsian)," kata salah satu warga RT 1 Desa Liang, Yani, dalam keterangan yang didapat Republika.co.id, Kamis.

Yani dan sejumlah warga lainnya memilih ke Puncak Menderita karena lokasinya yang tinggi. Sebelumnya, warga sempat melihat air laut surut dan khawatir berpotensi tsunami.

Kepala Dusun Tanjung, Desa Liang, Ismail membenarkan warganya kembali lagi ke pengungsian karena khawatir soal air laut yang surut dan potensi tsunami.

"Ya, tadi warga pada khawatir soal air laut yang surut. Ada juga yang katanya sempat lihat ombak. Jadi warga lainnya waspada dan naik ke atas sini (Puncak Menderita)," ujar Ismail.

Sejumlah wilayah di Desa Liang memang dekat dengan pesisir pantai. Beberapa warga masih ada yang menempati rumah mereka ketika siang dan kembali ke pengungsian ketika malam. Namun, mayoritas warga enggan kembali ke rumah mereka karena kekhawatiran terhadap potensi tsunami.

Salah satu warga yang enggan kembali adalah Onah. Ibu empat anak ini lebih memilih tinggal di pengungsian daripada kembali ke rumah. "Saya trauma sekali. Untuk sekarang mendingan di sini, masih sering gempa soalnya. Rumah saya retak dan hancur sebagian. Ada lubang juga yang keluar lumpur saat gempa itu. Jadi lebih aman di pengungsian dulu," ujarnya.

Terkait potensi tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa yang mengguncang Kabupaten Maluku Tengah tidak berpotensi tsunami. Namun warga di Desa Liang belum berani kembali ke rumah mereka dan lebih memilih tinggal di pengungsian.

Di Desa Liang, sekitar 17 ribu warga mengungsi di sejumlah titik pengungsian. Mereka berasal dari 14 RT dan 4 dusun di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Berdasarkan data BMKG, Per tanggal 10 Oktober, 1281 kali gempa susulan terjadi dan 146 kali dirasakan di Maluku.

Ketua Dewan Pembina Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ahyudin mengajak masyarakat tidak melupakan korban gempa Maluku. Ia berharap, solidaritas bangsa tidak menurun dalam membantu masyarakat terdampak bencana.

"Kami ingin terus meneruskan semangat solidaritas dan terus meluaskannya. Salah satu bentuk solidaritas tertinggi adalah solidaritas kemanusiaan,” ucap Ahyudin.

Ia juga mengajak masyarakat untuk memahami dimensi-dimensi terdampak setelah bencana, salah satunya dimensi ekonomi. Menurutnya, kemiskinan adalah dampak ekonomi yang paling fatal terjadi di masyarakat setelah bencana melanda.

Ahyudin mengajak agar masyarakat agar terus membantu para korban. Ia mengungkapkan kekhawatiran akan pengungsi di Maluku yang merasa terdiskriminasi karena kurang masifnya bantuan yang hadir untuk mereka.

Ia mengatakan, saat ini sebagian pengungsi yang masih bertahan di tenda karena tidak lagi memiliki tempat tinggal. "Mereka tidak lagi merasakan tempat yang nyaman, harta benda yang selama ini mereka miliki, semua habis, semua hilang. Kami terlebih dahulu mendistribusikan logistik pangan dan selanjutnya juga memberikan bantuan jangka panjang seperti Integrated Community Shelter (ICS)," katanya.

Ahyudin berkomitmen, ACT akan menyiapkan penanganan korban gempa di Maluku secara serius. Hingga saat ini ACT telah melakukan berbagai aksi kemanusiaan untuk membantu korban gempa di Ambon, yakni dapur umum, distribusi pangan, dan pelayanan kesehatan.

ACT juga terus melakukan pemantauan serta asesmen untuk kondisi terbaru di wilayah terdampak gempa di Ambon. Hingga saat ini, ACT terus melakukan pemantauan untuk kondisi terbaru di wilayah terdampak gempa di Maluku. Sejumlah relawan juga dikerahkan untuk memberikan bantuan.

"Semoga kita bisa bangun kembali masjid-masjid yang roboh, gereja-gereja yg roboh, sekolah-sekolah yang roboh," ucapnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA