Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Rektor IAIN Palu: Budaya Patriarki Hambat Kemajuan Perempuan

Selasa 08 Oct 2019 18:17 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi Muslimah

Ilustrasi Muslimah

Foto: EPA/Mast Irham
Patriarki salah satu faktor terjadinya bias gender di masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, PALU— Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, Prof Dr Sagaf S Pettalongi, mengemukakan budaya patriarki yang ada di masyarakat berkontribusi besar menghambat kemajuan perempuan di daerah.

Baca Juga

"Budaya patriarki masih sangat kental di daerah-daerah di Indonesia. Budaya ini mempengaruhi cara hidup masyarakat sampai hari ini," katanya, di Palu, Selasa (8/10).

Budaya patriarki menjadi salah satu faktor terjadinya bias gender di masyarakat. Adanya pemahaman dan cara pandang bahwa kaum adam lebih kuat dan lebih dapat berbuat, dan kaum perempuan sebagai komponen yang lemah atau hanya dapat melakukan aktivitas di rumah mencuci, memasak, dan seterusnya, adalah pemahaman yang bias gender, di masyarakat.

"Nah, pemahaman dan cara pandang itu dibentuk oleh budaya patriarki yang ada di masyarakat. Ini yang menjadi salah satu penyebab kemunduran perempuan," kata Prof Sagaf. 

Dalam budaya patriarki, sejak usia dini, menurut Prof Sagaf, anak-anak sudah dididik berdasarkan paradigma patriarki, anak laki-laki dan perempuan diperlakukan dengan cara yang berbeda sesuai paradigma tersebut.

Dia mengatakan, pembentukan awal laki-laki yang diarahkan menjadi kuat dan gagah sedangkan perempuan mengasuh boneka saja di rumah, adalah bibit dari masyarakat patriarki. “Pemahaman bahwa laki-laki lebih kuat dari perempuan adalah perspektif yang timpang gender,” kata dia. 

Adanya perspektif ini menjadi tantangan besar dalam upaya mewujudkan pemerataan dan pemenuhan hak yang berimbang antara lai-laki-kaum perempuan.

"Pemahaman ini sekaligus menjadi faktor penyebab tingginya kekerasan terhadap perempuan. Pemahaman bahwa perempuan harus tunduk pada laki-laki, cenderung di sebagian masyarakat disertai dengan perlakukan kekerasan bahkan terjadinya KDRT," katanya.

Karena itu, Prof Sagaf menyatakan, salah satu langkah yang harus ditempuh untuk akhiri kekerasan terhadap perempuan baik fisik maupun psikis, harus dilakukan dengan pendekatan pemenuhan hak.

Pemenuhan hak yang dilakukan yakni, perempuan harus diberikan ruang yang besar untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, diawali dengan merubah cara pandang di masyarakat dalam rangka mengikis budaya patriarki.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA