Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Fatima, Mualaf Italia yang Sukses Angkat Busana Muslimah

Senin 07 Oct 2019 13:47 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Fatima berpose di depan karyanya.

Fatima berpose di depan karyanya.

Foto: HuffPost Italy
Fatima melalui Fatima Shop promosikan fashion Muslimah.

REPUBLIKA.CO.ID, CANTU – Pengusaha asal Italia, Fatima Asmaa Paciotti, telah mengangkat mode busana Muslim di negaranya. Merchandise unik dari Fatima Shop miliknya pun dirancang untuk menarik perhatian berbagai kalangan, terlepas dari latar belakang mereka.

Baca Juga

Mode busana Muslim yang dikembangkannya tidak lepas dari langkah Fatima untuk memeluk Islam. Fatima memutuskan untuk masuk Islam pada 2005 lalu.  

Awalnya, dia kesulitan untuk mencari pakaian yang nyaman yang sesuai dengannya sebagai Muslimah. Tidak mudah untuk menemukan pakaian yang mencerminkan gaya pribadi dan keyakinan mereka sebagai Muslim di Italia. 

Momen inilah yang mendorong Fatima untuk mendirikan usaha pakaian Muslim. Butik fashion Muslim yang didirikannya berangkat dari kebutuhan akan pakaian cantik dan berkualitas tinggi untuk wanita seperti dirinya.  

"Saya hanya menemukan pakaian berkualitas buruk, yang juga mahal. Mereka tidak bertahan lama, dan kadang-kadang mereka merasa tidak nyaman," kata pengusaha berusia 55 tahun itu kepada HuffPost Italy, dilansir pada Senin (7/10). 

Awalnya, dia memulai usaha kecil dengan menjual pakaian Muslim tersebut di Facebook. Ketika bisnisnya semakin populer, Fatima kemudian mendirikan sebuah butik fashion kelas atas bagi Muslimah yang diberi nama Fatima Shop. 

Toko miliknya bahkan menjadi terkenal lantaran lokasinya yang terletak di Cantu di provinsi Como. Seperti diketahui, Provinsi Como adalah wilayah di mana walikota yang terpilih pada putaran pertama pemilihan umum berasal dari partai politik sayap kanan-jauh, The League. 

The League terkenal karena kampanye kerasnya melawan migran, yang sebagian besar dari mereka adalah Muslim. Partai ini juga telah menentang keberadaan masjid atau ruang ibadah yang dibuka untuk Ramadhan.  

Kota ini juga merupakan tempat dari politisi lokal Nicola Molteni melancarkan serangan melawan perempuan yang memilih mengenakan jilbab di tempat-tempat umum. 

Jurnalis Elisabetta Invernizzi, yang menulis artikel tentang Fatima, tertarik pada cerita itu lantaran butik Fatima berpusat di Como, tempat dia dilahirkan. 

"Butik itu bisa dibuka di Milan, di ibu kota mode, tetapi Paciotti memilih Cantù, wilayah yang dipimpin partai sayap kanan dari Presiden Matteo Salvini," kata Elisabetta.  

Kisah Fatima tersebut setidaknya telah mengganti stereotip tentang Muslimah dan berjilbab. Elisabetta berharap kisah Fatima juga akan mendorong debat serius tentang politik di Italia dan menumbuhkan rasa ingin tahu tentang mode dan tradisi Islam. 

"Partai-partai sayap kanan, pada saat ini dalam sejarah, memiliki banyak dukungan. Muslim adalah salah satu dari banyak kambing hitam," ujarnya. 

Fatima mengungkapkan, reaksi dari para pembaca di Italia juga terpecah atas tulisannya tentang Fatima. Menurutnya, beberapa orang berharap Fatima Shop gagal dan percaya (secara tidak benar) bahwa mengenakan jilbab membebankan atas semua wanita Muslim. 

Sementara itu, yang lain justru menyambut baik toko tersebut. Akan tetapi, Fatima justru mengatakan bahwa dia perlahan-lahan memenangkan hati dan pikiran tetangga barunya itu, bahkan mereka yang awalnya khawatir tentang keberadaan toko pakaian Muslim miliknya.  

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA