Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Perjalanan Syekh Muhyi Ungkap Gua Pamijahan untuk Meditasi

Senin 23 Sep 2019 10:48 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Nashih Nashrullah

Tarian sufi (ilustrasi).

Tarian sufi (ilustrasi).

Foto: trekearth.com
Gua Pamijahan ditemukan berdasarkan perintah Syekh Abdurrauf Singkel.

REPUBLIKA.CO.ID, REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Syekh Abdul Muhyi atau disebut juga Syekh Muhyi Pamijahan adalah tokoh penting yang menyebarkan secara luas Tarekat Syattariyah di Indonesia terutama di wilayah Priangan Timur seperti Garut dan Tasik. Selain itu  hingga ke Ciamis dan Kuningan. Pencarian Gua Pamijahan yang merupakan titah gurunya menjadi kisah yang mewarnai kehidupan Syekh Muhyi.

Baca Juga

Syekh Abdul Muhyi lahir di Mataram pada 1650 M. Ibunya adalah R Ajeng Tanganijah yang masih keturunan keturunan Sayyid Husen bin Ali bin Abi Tholib. Sedangkan ayahnya bernama Sembah Lebe Wartakusumah seorang keturunan Raja Galuh Mataram. 

Dari orang tuanyalah, Syekh Abdul Muhyi pertama kali mempelajari Islam. Saat remaja yakni pada usia 19 tahun, Syekh Abdul Muhyi memperdalam Islam pada seorang ulama besar di Aceh yakni Syekh Abdurrauf Singkel. Melalui gurunya itu Syekh Abdul Muhyi mempelajari Tarekat Syattariyah. 

Ketika Syekh Abdurrauf membawa Syekh Abdul Muhyi ke Makkah, tepatnya di Masjid al-Haram, gurunya itu mendapatkan ilham agar Syekh Abdul Muhyi menemukan sebuah gua di pulau Jawa. Saat kembali dari tanah suci, Syekh Abdurrauf baru menyampaikan ilham yang diperolehnya dan memerintahkan pada Syekh Muhyi untuk mencari gua itu. 

Namun sebelum Syekh Muhyi melaksanakan titah gurunya itu, orang tua beliau menikahkan Syekh Muhyi dengan Ayu Bakta, putri dari Sembah Dalem Sacaparna. Tak mudah bagi Syekh Muhyi menemukan gua yang dimaksud sesuai titah gurunya itu. Selama pencarian gua itu, Syekh Muhyi singgah dan menetap dari satu wilayah ke wilayah lainnya. 

Di antaranya dia  melintas suatu desa bernama Darma di Kuningan. Beliau pun menetap di sana dari 1678 sampai 1685. Setelah itu, Syekh Muhyi berpindah ke wilayah lainnya yakni ke Pamengpeuk, Selatan kota Garut dan juga ke Lebaksiuh di wilayah itu Syekh Abdul Muhyi bertafakur di sebuah gunung yang kemudian dinamai Gunung Mujarod atau tempat menenangkan diri. Di Lebaksiuh Syekh Muhyi menetap dan mensyiarkan Islam, meski demikian dia tetap berupa mencari keberadaan gua yang dimaksud syekh Abdurrauf. 

Konon jika tanaman padi yang ditanam Syekh Muhyi dapat panen dengan jumlah yang sama dengan bibit awal saat ditanam maka letak gua itu pun sudah dekat. 

“Suatu hari dia memerhatikan bahwa tumbuhan beras telah tumbuh dan menghasilkan sebanyak seperti yang telah dia tanam. Dia bahagia dan bersyukur pada Allah atas tanda yang baik dan jelas menyangkut di mana gua yagn ia telah cari-cari selama 12 tahun,” tulis Sri Mulyati dalam Peran Edukasi Tarekat Qadariyah Naqsabandiyah dengan Referensi Utama Suryalaya. 

Sykeh Muhyi pun menemukan gua yang dimaksud gurunya pada usia 40 tahun. Gua itulah yang dinamakan Gua Pamijahan. Saat ini area gua masuk Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong, Tasikmalaya. 

Setelah menemukan gua tersebut, Syekh Abdul Muhyi dan keluarganya pindah dan mulai menyebarkan ajaran tarekat Syattariyah. Murid-murid Syekh Abdul Muhyi diantaranya yakni Sembah Khotib Muwahid, Eyang Abdul Qohar, Sembah Dalem Sacaparna yang juga mertuanya dan Sembah Dalem Yudanagara. Andrian Saputra

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA