Senin 23 Sep 2019 06:28 WIB

Saudi-Iran di Ambang Perang

Saudi-Iran di Ambang Perang

Ilustrasi kilang minyak
Foto: AP
Ilustrasi kilang minyak

Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Saudi versus Iran. Ya, kedua negara selama ini bersaing ketat untuk mendominasi peta kekuatan sepak bola di Timur Tengah. Sejauh ini, Saudi dan Iran sama-sama pernah meraih gelar juara tiga kali di tingkat Asia (Piala Asia). Mereka hanya kalah dari Jepang yang telah memperoleh empat trofi. Kedua tim juga berpengalaman tampil di putaran final Piala Dunia sebanyak empat kali.

Seri? Ya, di sepak bola. Namun, berikut ini bukan tentang sepak bola. Ini terkait kemungkinan perang antara Saudi dan Iran. Selama ini, kedua negara belum pernah berkonfrontasi militer secara langsung. Yang ada baru “pemanasan”. Bermula dari eksekuti mati seorang ulama Syiah, Syekh Nimr al-Baqir an-Nimr, tiga tahun lalu. Ia dituduh telah ikut mendalangi sejumlah aksi teror di Saudi.

Eksekuti mati Syekh Nimr ternyata berbuntut panjang. Sejumlah petinggi Iran mengecam keras eksekusi itu. Warga Iran pun menggelar demonstrasi dan menyerang Kedubes Saudi di Teheran serta konjennya di Masyhad. Saudi menuduh serangan itu direkayasa. Mereka pun segera mengambil langkah memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran yang berlangsung hingga kini.

Pemutusan hubungan diplomatik ini memang bukan tsunami. Ia baru ombak besar yang sebelumnya didahului riak-riak kecil berupa perbedaan sikap dan pandang kedua negara atas sejumlah hal. Dari soal nuklir hingga tuduhan bahwa Iran ingin memperluas pengaruh Syiah di Timur Tengah.

Dari berbagai perbedaan—dari masalah agama, politik, keamanan/militer, hingga ekonomi—inilah yang kemudian membuat hubungan kedua negara sensitif. Setiap masalah antardua negara langsung dijadikan isu internasional untuk saling menyerang, termasuk tuduhan bahwa Iran berada di belakang serangan terhadap dua kapal tanker minyak di Teluk pada Juni dan Juli serta empat lainnya pada Mei. Teheran menolak tuduhan dalam kedua kasus itu.

Yang terbaru adalah serangan terhadap dua ladang minyak Saudi Abqaiq dan Khurais. Kedua ladang minyak itu dihantam drone dan rudal pada Sabtu (14/09) dini hari. Kelompok al-Khouthi di Yaman mengklaim sebagai pelakunya. Namun, Saudi—yang didukung Amerika Serikat (AS)—tidak percaya. Mereka menuding Iran berada di balik serangan kedua ladang minyak terbesar di Saudi itu. Iran pun membantahnya.

Menyimak berbagai pernyataan keras para petinggi Saudi dan Iran, tampak eskalasi hubungan kedua negara semakin panas. Kedua negara yang saling berhadapan di bibir perairan Teluk itu sudah seperti di ambang perang.

Lalu bagaimana keseimbangan kekuatan militer antara kedua negara bila perang benar-benar pecah? Siapa yang menang?

Menurut media aljazeera.net—mengutip Global Fire Power, sebuah lembaga di AS yang khusus memantau kekuatan pasukan di seluruh dunia—militer Iran lebih maju daripada Saudi. Iran menempati peringkat ke-14 dari 137 negara dalam bidang militer, sementara Saudi berada di peringkat 25.

Global Fire Power membuat peringkat ini didasarkan pada 50 kriteria, antara lain keberhasilan misi, jumlah dan profesionalisme tentara, kecanggihan pesawat tempur, tank, peralatan angkatan laut, sumber daya keuangan dan SDM, lokasi geografis, kekuatan ekonomi, dan sumber daya alam. Selain iu, juga jumlah pasukan aktif dan cadangan.

Dari sisi SDM, Iran berpenduduk lebih dari 83 juta, sementara Saudi sekitar 33 juta jiwa. Jumlah tentara aktif Iran mencapai 523 ribu dan tentara cadangan 350 ribu orang—terbesar di Timur Tengah. Sementara itu, jumlah tentara Saudi sekitar 230 ribu orang. Tidak ada data mengenai tentara cadangan.

Untuk anggaran pertahanan, Arab Saudi mengeluarkan dana lebih besar dari Iran, yaitu 70 miliar dolar berbanding 7 miliar dolar AS. Dalam hal pesawat militer, Arab Saudi juga mengungguli Iran, dengan perincian 848 berbanding 509 pesawat. Selanjutnya, Arab Saudi memiliki 244 jet tempur, sementara Iran hanya memiliki 142 buah. Sebaliknya, Iran unggul dalam jumlah pesawat angkut militer, yaitu 89 berbanding 49 pesawat milik Saudi.

Saudi secara signifikan mengungguli Iran dalam jumlah kendaraan tempur lapis baja. Saudi memiliki 11.100 kendaraan, sementara Iran 2.345. Sebaliknya, Iran unggul dalam jumlah yang sangat besar dalam hal peluncur rudal. Perbandingannya adalah 1.900 untuk Iran dan 122 milik Saudi.

Selanjutnya, Iran memiliki 34 kapal selam, sementara Arab Saudi tidak punya. Namun, Saudi sedikit unggul dalam hal fregat, yaitu tujuh berbanding enam fregat milik Iran. Untuk kapal penyapu ranjau, kedua negara sama-sama memiliki tiga buah. Namun, untuk kapal penjelajah, Saudi unggul sedikit dibandingkan dengan Iran, 4 berbanding 3. Akan tetapi, Iran secara sangat besar mengungguli Arab Saudi dalam jumlah kapal patroli, 88 berbanding 9 milik Saudi.

Dengan data seperti itu, belum ada satu pihak pun yang bisa memprediksi siapa pemenang bila perang antardua negara benar-benar pecah. Selain senjata dan jumlah personel militer, kemenangan perang masih bergantung pada strategi, militansi tentara, ekonomi dalam negeri, dan dukungan pihak asing.

Saudi sendiri sejauh ini tampaknya berusaha menghindar dari konfrontasi militer secara langsung dengan Iran. Ia lebih memilih melibatkan pihak internasional atau asing, terutama Amerika Serikat (AS), seperti serangan terhadap Afghanistan zaman Taliban dan Irak rezim Saddam Husein.

Alasannya, seperti dikemukakan kolumnis di media //al-Sharq al-Awsat, Rajeh al Khoury, serangan terhadap ladang-ladang minyak Saudi pada hakikatnya adalah serangan terhadap dunia. Sebab, lanjutnya, serangan itu telah mengganggu pasokan minyak global dan pada gilirannya akan mengancam stabilitas perekonomian internasional. Oleh karena itu, menurut dia, serangan dan ancaman Iran harus menjadi urusan internasioal.

Apakah Iran benar-benar pelaku serangan terhadap dua ladang minyak Saudi, Abqaiq dan Khurais? Jawabannya tidak begitu penting. Toh, dalih AS bahwa rezim Saddam Husein menyimpan senjata pemusnah massal yang menjadi alasan invasi ke Irak pada 2003 tidak pernah terbukti hingga kini. Yang terpenting adalah bagaimana menggalang opini dunia bahwa rezim Iran sangat membahayakan perdamaian dunia, terutama Timur Tengah.

Bila serangan terhadap Iran yang melibatkan pasukan internasional (baca: asing) terjadi, bisa dipastikan pasukan itu akan dipimpin oleh AS, seperti serangan yang telah terjadi terhadap Afghanistan dan Irak. Apalagi, AS telah lama mempunyai dendam abadi terhadap rezim Republik Islam Iran. Dimulai dari penyanderaan para diplomat AS setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, kemampuan Iran mengembangkan nuklir, hingga sepak terjang Iran yang dianggap bisa membahayakan negara-negara sekutu AS di Timur Tengah.

Namun, yang perlu diingat, Iran bukanlah negara cemen. Iran bukan seperti Afghanistan atau Irak. Iran telah menjelma menjadi negara kuat di Timur Tengah meski telah lama diembargo AS. Negara ini telah mampu memproduksi sendiri berbagai persenjataan canggih. Dari kendaraan lapis baja, kapal selam, rudal hingga //drone//.

Bahkan, senjata nuklir juga mampu dibuat kalau mereka mau. Sekutu Iran pun berada di mana-mana, di Yaman (al Khouti), di Lebanon (Hizbullah), di Irak, Suriah, dan Gaza.

Oleh karena itu, bila perang terhadap Iran benar-benar pecah, entah itu dengan Saudi atau melibatkan pasukan asing (AS), akibatnya sungguh dahsyat. Serangan terhadap dua ladang minyak Saudi pada Sabtu dua pekan lalu, yang membuat produksi minyak Saudi anjlok hingga 50 persen, telah membuat harga minyak dunia naik hingga 15 persen dan menyentuh harga 70 dolar per barel.

Lalu, bagaimana bila perang benar-benar berkobar? Bisa dipastikan Timur Tengah akan terbakar dan perekonomian dunia gonjang-ganjing. Oleh sebab itu, harus ada pihak-pihak yang berupaya mendinginkan panasnya hubungan Saudi-Iran. n

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement