Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Khalid Bin Sa'id Membawa Islam Hidup dan Mati

Senin 23 Sep 2019 03:00 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Oase (ilustrasi)

Oase (ilustrasi)

Foto: Wordpress.com
Khalid mempertahankan keimanannya meski harus disiksa sang ayah berhari-hari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Khalid bin Sa'id bin Ash dilahirkan di sebuah keluarga kaya. Sang ayah merupakan pembesar suku dari seorang warga Quraisy yang terkemuka.

Ketika berita Rasulullah mendapat wahyu tersebar, dialah lelaki yang termasuk golongan pertama yang memercayai peristiwa tadi. Khalid mengakui Muhammad sebagai nabi dan Rasulullah.

Kepribadiannya tenang, pendiam, tak banyak bicara, tapi yang sebenarnya, pada batinnya dan dalam lubuk hatinya, bergelora dengan hebatnya gerakan dan kegembiraan.

Dia selalu duduk dekat mereka yang mengisahkan tentang agama baru yang selama ini asing di telinga. Dia mendengarkannya dengan baik disertai perasaan sukacita yang dipendam.

Dari waktu ke waku mendengarkan risalah dari kelompoknya ini, mendorong dia untuk menyebarkan berita dan mengajarkan mereka tentang Tauhid.

Namun, jika rasa suka cita ini tidak diam-diam ditutup, hidupnya akan bahaya karena bisa saja akan dihabisi sang ayah. Dia pun tak dapat bertahan la ma untuk meluapkan segala isi hatinya.

Suatu hari, Khalid yang sudah membuka mata masih berada di tempat tidur, baru saja mengalami suatu mimpi yang sangat dahsyat, yakni ia berdiri di bibir nyala api yang besar, sedangkan ayahnya dari belakang hendak mendorongnya dengan kedua tangan ke arah api itu dan bermaksud hendak melemparkannya.

Kemudian, dilihatnya Rasulullah datang, lalu menariknya dari belakang dengan tangan kanannya yang penuh berkah hingga tersingkirlah ia dari bahaya jilatan api.

la tersadar dari mimpinya dengan memperoleh bekal langkah perjuangan menghadapi masa depan. Ia segera pergi ke rumah Abu Bakar lalu menceritakan mimpi itu. Mimpi seperti itu sebetulnya tidak memerlukan ta'bir lagi. Kata Abu Bakar kepadanya, Sesungguhnya tak ada yang kuinginkan untukmu selain dari kebaikan. Nah, dialah Rasulullah SAW. Ikutilah dia karena sesungguhnya Islam akan menghindarkanmu dari api neraka!

Memeluk Islam

Khalid pun pergi mencari Rasulullah SAW. Lalu, menumpahkan isi hatinya, dan menanyakan tentang dakwahnya. Kata Nabi, hendaklah engkau beriman kepada Allah yang Maha Esa semata, jangan mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Dan, engkau beriman kepada Muhammad, hamba-Nya dan Rasul-Nya.

Dan, engkau tinggalkan penyembahan berhala yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat melihat, tidak memberi mudharat dan tidak pula manfaat.

Khalid lalu mengulurkan tangannya yang disambut oleh tangan kanan Rasulullah SAW dengan penuh kemesraan, dan Khalid pun berucap, Aku bersaksi bahwa tak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad Rasul Allah.

Pada waktu Khalid memeluk Islam, belum ada orang yang mendahuluinya kecuali empat atau lima orang. Ia termasuk dalam lima orang angkatan pertama pemeluk Islam. Setelah diketahui yang menjadi pelopor dari agama ini adalah putra Sa'id bin Ash, bagi Sa'id peristiwa itu akan menyebabkannya menjadi bulan-bulanan penghinaan dan ejekan bangsa Quraisy.

Oleh karena itu, dia memanggil sang anak, lalu bertanya, benarkah kamu telah mengikuti Muhammad dan membiarkannya mencaci tuhan-tuhan kita?Jawab Khalid, Demi Allah, sungguh ia seorang yang benar dan sesungguhnya aku telah beriman kepadanya dan mengikutinya.

Ketika itulah, pukulan ayahnya secara bertubi-tubi menimpa dirinya, yang kemudian mengurungnya dalam kamar gelap di rumahnya, lalu membiarkannya terpenjara menderita lapar dan dahaga.

Namun, Khalid berseru kepadanya dengan suara keras dari balik pintu yang terkunci, Demi Allah, sesungguhnya ia benar dan aku beriman kepadanya!Jelaslah sekarang bagi Sa'id, bahwa siksa yang ditimpakan kepada anaknya itu belum lagi cukup dan memadai.

Oleh sebab itu, dibawanya anak itu ke tengah panas teriknya kota Makkah, lalu ia menginjak-injaknya di atas batu-batu yang panas menyengat. Sa'id memperlakukan putranya sedemikian rupa selama tiga hari penuh, tanpa perlindungan dan keteduhan, tanpa setetes air pun yang membasahi bibirnya.

Akhirnya, sang ayah putus asa lalu kembali pulang ke rumahnya. Namun, di sana ia terus berusaha menyadarkan anaknya itu dengan berbagai cara, baik dengan membujuk maupun mengancamnya.

Namun, Khalid berpegang teguh kepada kebenaran, Aku tak hendak meninggalkan Islam karena suatu apa pun, aku akan hidup dan mati bersama nya!katanya pada sang ayah.

Sewaktu Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya hijrah yang kedua ke Habasyah, Khalid termasuk salah seorang anggota rombongan. Ia berdiam di sana beberapa lamanya, kemudian kembali bersama kawan-kawannya ke kampung halaman mereka di tahun yang ke-7. Mereka dapatkan kaum Muslimin telah membebaskan Khaibar.

Khalid kemudian bermukim di Madinah, di tengah-tengah masyarakat Islam yang baru. Di mana ia termasuk salah seorang angkatan lima pertama yang menyaksikan kelahiran Islam, dan ikut membina bangunannya.

Sejak itu Khalid selalu beserta Nabi dalam barisan pertama pada setiap peperangan atau pertempuran. Dan, karena kepeloporannya dalam Islam ini serta keteguhan hatinya dan kesetiaannya, jadilah ia tumpuan kesayangan dan penghormatan.

Sebelum wafat, Rasulullah mengangkat Khalid menjadi gubernur di Yaman. Sewaktu sampai kepadanya berita pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah dan pengukuhannya, ia lalu meninggalkan jabatannya datang ke Madinah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA