Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Agama Bisa Jadi Pemicu Budaya Damai, Bagaimana Bisa?

Kamis 12 Sep 2019 11:35 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi sekeluarga mengaji, mengaji sekeluarga, mengaji bersama, ngaji bersama

Ilustrasi sekeluarga mengaji, mengaji sekeluarga, mengaji bersama, ngaji bersama

Foto: Republika/Yogi Ardhi
Agama jadi pemicu budaya damai menghadapi tantangan global.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP) menggelar Musyawarah Nasional ke-2 Tokoh Antaragama untuk membangun budaya damai. Peran agama dinilai dapat mewujudkan budaya damai untuk menghadapi tantangan global.

Asisten UKP-DKAAP, Jacky Manuputty, mengatakan  pada musyawarah nasional kedua ini tidak ingin banyak berbicara tentang konseptual karena berbicara konseptual saja tidak cukup. Sebab diperlukan langkah konkret untuk membicarakan dan mendialogkan apa yang harus dikerjakan oleh tokoh-tokoh agama.  

Baca Juga

"Kita (tokoh-tokoh antaragama) akan memperbanyak titik temu dan membangun kepedulian bersama secara tajam untuk melihat agama-agama harus bergerak seperti apa untuk keindonesiaan karena agama adalah benteng terakhir selain ideologi," kata Jacky kepada Republika.co.id usai pembukaan Musyawarah Nasional Tokoh Antaragama di Hotel Shangri-La, Rabu (12/9) malam.

Dia mengingatkan, tantangan peradaban dan kehancuran terjadi di mana-mana dengan sangat cepat dan masif. Hal tersebut berdampak terhadap manusia dan lingkungan. 

Menurutnya, kehancuran lingkungan, HIV/Aids dan narkoba tidak punya agama. Tapi yang terkena dampak dari HIV/Aids dan narkoba adalah anak-anak bangsa yang beragama.

Dalam kondisi tersebut, Jacky mengatakan, agama-agama menjadi pembawa kabar baik bagi manusia dan lingkungan. Maka peran tokoh agama-agama harus bisa mendorong umat untuk bekerja bersama-sama menghadapi berbagai macam tantangan tersebut.

Dia menyampaikan, di samping itu krisis ekonomi global sudah diperkirakan akan terjadi. Maka bangsa Indonesia harus harus punya integritas dan identitas yang kuat untuk menghadapinya. Sebab konflik di masa depan bukan hanya konflik antaragama tapi konflik identitas. 

"Agama kadang-kadang dipakai menjadi self defense mechanism yang terakhir, sebab kalau identitas ekonomi, sosial dan budaya dihancurkan, yang terakhir identitas yang tidak bisa diterobos adalah identitas agama, disitu agama bisa menjadi senjata tapi agama juga bisa menjadi kembang perdamaian," jelasnya.

Jacky mengingatkan betapa pentingnya peran tokoh dan pemuka agama-agama. Sebab mereka yang bisa mengelola agama dan memperkuat identitas bangsa untuk kebersamaan. Sehingga peran agama dapat menghadapi tantangan global. "Maka tokoh agama harus memberikan inspirasi-inspirasi yang religius," ujarnya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA