Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Muhammadiyah Optimistis Indonesia Bisa Tangani Krisis Papua

Selasa 03 Sep 2019 15:16 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Nashih Nashrullah

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nasir memberikan kuliah umum kepada  ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome  UMM, Senin (2/9).

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nasir memberikan kuliah umum kepada ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome UMM, Senin (2/9).

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Indonesia berpengalaman menghadapi krisis pada masa lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG – Ketua Umum (Ketum) PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mencari solusi terkait permasalahan Papua. "Saya percaya kita punya solusi itu," ujar Haedar kepada wartawan di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (2/9).   

Baca Juga

Menurut Haedar, seluruh elemen masyarakat memiliki peranan penting dalam mendamaikan bangsa. Untuk itu, dia mendorong, warga agar bersikap saling toleransi dan berintegrasi. Tidak lagi membuat asumsi sehingga berpotensi memecahkan bangsa.    

"Bangsa ini cukup matang dari pengalaman sejarah di Papua, Aceh, Poso, Maluku, dan Ambon. Jadikan itu pelajaran untuk mengambil peran yang integratif," kata Haedar.   

Haedar percaya semua kekuatan pemerintah terutama militer mampu menghadapi persoalan di Papua. Hal yang pasti, dia yakin masyarakat Papua juga ingin hidup damai. Mereka mau hidup bersama dengan seluruh rakyat dan ingin menyelesaikan masalah secara seksama.  

Menurut Haedar, menangani persolan Papua tidak bisa dilakukan secara instan. Meski demikian, pemerintah dan militer sesungguhnya telah memberikan upaya serius terkait hal tersebut. 

"Tapi, mungkin perlu ada intensitas yang lebih tinggi lagi untuk secara fokus menyelesaikan Papua sehingga ditemukan langkah jangka pendek dan panjang seperti apa," jelasnya.   

Muhamadiyah, kata Haedar, telah berupaya mengintegrasikan diri dengan Papua. Hal ini terbukti dengan keberadaan empat kampus tinggi Muhammadiyah di Papua dan Papua Barat. Mereka juga telah memiliki tempat untuk memberdayakan masyarakat dan suku setempat hingga ke kawasan Merauke.    

"Dan semangat Muhammadiyah memang semangat integrasi nasional, semangat integrasi sosial dan semangat pluralitas yang produktif," ujarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA