Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Kesempurnaan Alquran Atas Kitab Suci Agama Samawi

Senin 26 Aug 2019 05:03 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Pembuatan bahtera Nabi Nuh (ilustrasi).

Pembuatan bahtera Nabi Nuh (ilustrasi).

Foto: Blogs.cnn.com
Mari kita tinjau tentang kesempurnaan Alquran atas kitab suci lainnya.

Oleh: Menachem Ali,
Dosen Filologi Universitas Airlanggga

Dialog teologis (interfaith dialogue) merupakan bentuk dialog yang lebih banyak melibatkan para ahli. Tujuan utama dialog teologis ini lebih menekankan pada kajian teks-teks suc agama-agama, dan bukan sekedar pendalaman iman terhadap Quran semata, tetapi juga memahami bagaimana relasi Quran dengan kitab-kitab sebelumnya.

Dialog teologis sekarang ini begitu masif disuarakan dan digelar di berbagai komunitas keagamaan di negara-negara Eropa, Amerika, Timur Tengah dan Afrika. Prof. Idris as-Salawy, penulis buku "Manuscrits Arabes en Occident Musalman" المخطوطات العربية في الغرب الاسلامية (Marocco, Dar al-Baidha': Muassasah al-Malik 'Abdul 'Aziz, 1990), serta Prof. Raymond Farrin, seorang muallaf dan juga sebagai Associate Professor of Arabic Studies di the American University of Kuwait telah menulis buku "Structure and Quranic Interpretation: A Study of Symmetry and Coherence in Islam's Holy Text" (Oregon: White Cloud Press, 2014).

Kedua buku tersebut penting sebagai bacaan, terutama untuk memahami relasi teks Quran dengan teks-teks kitab agama-agama. Begitu juga karya Prof. Ahmad Shahlan, seorang professor di bidang Semitic Studies di Marocco yang berjudul قضايا من اصول موسى الى البابا بنديكت XVI (Rabat: Mathba'ah al-Risalah, 2016), buku ini sangat pemting utk membaca teks-teks Semit.

Menurut saya ada tiga ranah/bidang dialog teologis yang perlu kita suarakan di bumi Indonesia ini. Pertama, Dar al-Taqrib bayn al-madzahib al-Islamiyah (Islamic Studies).

Kedua, Dar al-Taqrib bayn al-Adyan al-Samiyah (Semitic Studies). Ketiga, Dar al-Taqrib bayn al-Adyan al-Samawiyah (Aryo-Semitic Studies)

Dalam konteks dialog teologis ini saya akan menjelaskan relasi teks suci agama-agama bertradisi Semit dan Arya. Menurut saya, tidak ada pembedaan dikotomis antara sebutan "agama-agama langit" dan "agama-agama bumi", sebab semua agama yang ada di muka bumi saat ini asal-usulnya pasti berasal dari langit. Islam datang untuk meluruskan, mengoreksi dan menyempurnakannya melalui kitab suci Quran, sebagaimana yang tersirat dalam teks Qs. al-Baqarah 2:106.

Kitab suci semua agama bukanlah sebuah teks sakral yang berdiri sendiri. Namun, kitab suci semua agama menegaskan semacam mata rantai yang menyadarkan kita tentang adanya konsep "One Word Many Versions" sesuai konteks zamannya. Dengan demikian, semua kitab suci ada semacam "common heritage" sebagaimana yang termaktub dalam kitab-kitab suci, dan Quran telah mengkonfirmasikannya.

Misalnya, Mazmur 37:29, see Harav Yosef Yitzhaq. Sefer Tehilim: Ohel Yosef Yitzhaq (Brooklyn: Kehot Publication Society, 1992), p. 46, tertulis demikian:

צדיקים יירשו ארץ וישכנו לעד עליה. תהלים 37:29

"Orang-orang benar mewarisi bumi dan mereka akan tinggal selama-lamanya di bumi" (Tehilim 37:29).

Kitab suci Quran juga menyebutkan ayat yang sejajar, yang meneguhkan pernyataan kitab Mazmur dan sekaligus mengkonfirmasinya, yakni berkaitan dengan keberadaan orang-orang benar, atau pun orang-orang saleh. Qs. Al-Anbiya 21:105 menyebutkan demikian:

ولقد كتبنا في الزبور من بعد الذكر ان الارض يرثها عبادى الصلحون

Ayat ini sekaligus menegaskan bahwa hanya orang-orang saleh saja yang disebut "as-Shalikhun" (الصلحون) yang memiliki karakter kenabian. Itulah sebabnya ayat yang berkaitan dengan "orang-orang saleh" ternyata terletak pada Qs. Al-Anbiya' (lit. "para Nabi").

Kitab Smriti Weda dan Quran

Semua teks dari berbagai latar agama yang bermacam-macam, sebenarnya merekam "the great heritage" yang sumbernya berasal dari Rabb yang Maha Agung yang mengisahkan tentang keturunan orang yang saleh, yang naik ke bahtera Nuh. Itulah sebabnya kita dapat berkata: אנחנו בני אב אחד - Anahnu b'nei Av echad (Kita berasal dari Bapa yang satu), yakni Nuh atau Manu, dan dialah sebenarnya nenek moyang kita semua, yang saat itu selamat dari peristiwa banjir besar yang melanda seluruh permukaan bumi, dan semua yang tidak beriman dan melakukan tindakan yang tidak saleh, tak seorang pun diselamatkan, semuanya tenggelam.

Dalam kitab agama Hindu, yakni kitab Manu Smriti-veda yang populer disebut kitab Manawa Dharmasastra, Pratamodyayah. 65 tertulis ayat demikian "Ratrih svapnaya bhutanam cestayai karma yanamahah" (malam untuk beristirahat dan siang untuk bekerja bagi makhluk hidup). Ayat suci Hindu ini ternyata ada kesejajaran dengan Qs. Al-Rum 30:23. Ini adalah kesejajaran antara ayat suci kedua agama besar, yakni Hindu dan Islam.

"Manu Smriti-veda, name of the most important text on the social and religious obligations (dharma) of Hindus. The work was composed in Sanskrit, probably about the first century B.C.E. or first century C.E. and has some 2,685 verses... Almost half the verses of this text attributed to the sage Manu are found also in the Mahabharata's twelfth and thirteenth books, though it is unclear which text has borrowed from the other", see Bruce M. Sullivan. The A to Z of Hinduism (New Delhi: Vision Books Pvt. Ltd., 2003), p. 128

Berdasarkan penjelasan Bruce M. Sullivan tersebut di atas, maka kitab Manu Smriti-veda merupakan kitab suci Hindu yang berkaitan dengan kitab hukum yang mengatur persoalan sosial dan kewajiban keagamaan. Menariknya, kitab Manu Smriti-veda ini ternyata ada relasi teks dengan kitab suci Mahabharata. Padahal berdasarkan latar sejarah, peristiwa dan penulisan kitab Mahabharata ternyata jauh lebih tua dibanding latar sejarah kelahiran ketokohan Abraham. Dan ini berarti agama-agama Abrahamik yang merujuk pada 3 agama besar, yakni Yahudi, Kristen dan Islam faktanya memang belum lahir dalam pentas sejarah.

Fakta ini akan lebih menarik lagi bila dikaji berdasarkan pembuktian studi manuskrip tertua antara manuskrip berbahasa Ibrani yang secara filologis dapat dibandingkan dengan manuskrip berbahasa Sanskrit. Salah satu fakta tekstual terkait dengan kisah mengenai Abraham dan kisah Nuh yang berkaitan dengan peristiwa banjir besar, ternyata justru termaktub dalam Sefer Bereshit, kitab ini ditemukan di gua Qumran yang disebut sebagai bagian dari the Dead Sea Scrolls. Usia manuskrip Sefer Bereshit atau pun Genesis Apocryphon berdasar calibrated age range melalui uji Carbon-14 sekitar 209 - 117 BCE atau 73 B.C.E - 14 C.E. dan ini ternyata tidak lebih dari the first century BCE. or the first century C.E., see Philip R. Davies. The Complete World of the Dead Sea Scrolls (London: Thames & Hudson Ltd., 2011), p. 74.

Kitab Manu Smriti-veda sebagai kitab hukum memang diwahyukan TUHAN dan diterima oleh Manu pasca peristiwa banjir besar yang menenggelamkan seluruh bumi. Manu saat itu mempunyai 3 orang putra; dalam teks Vedic Sanskrit namanya disebut Charma, Sharma, dan Yapeti; dan dalam teks Septuagint Yunani dan teks Vulgata Latina - nama mereka disebut dengan nama Cham, Sem, Iapheth (Genesis 7:13).

Sementara itu, dalam kitab تنوير المقباس من تفسير ابن عباس (Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibni 'Abbas) nama-nama bertradisi Arya tersebut juga ada kesejajarannya dalam versi tradisi Arab-Islam, yakni حام (Cham), سام (Sam) dan يافث (Yafats). Tatkala membahas teks Quran khususnya ayat dari QS. Hud 11:48 maka Ibnu 'Abbas berkata:

وكان معه ثلاتة بنين سام وحام ويافث

"Wa kana ma'ahu tsalastah banin Sam, wa Cham wa Yafats" (dan Nuh disertai 3 putranya yakni Sam, Cham dan Yafats), see al-Fayruzabadi (ed.), Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn 'Abbas (Lubnan: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 2011), hlm. 237.

Manu diperintahkan TUHAN untuk menaiki bahtera besar sehingga hanya Manu dan orang-orang suci saja yang selamat dari banjir besar tersebut. Peristiwa banjir besar ini merupakan "pralaya" atau "total destruction." Catatan mengenai peristiwa banjir besar yang melanda seluruh permukaan bumi tersebut diabadikan dalam teks suci Hindu.

Hal ini sebagaimana yang tercatat dalam kitab suci Srimad Bhagavatam Purana. I.3.15.

rupam sa jagrhe matsyam
caksusodadhi-samplave
navy aropya mahi-mayyam
apad vaivastavam manum. "When there was a complete inundation after the period of the Caksusa Manu and the whole world was deep within water, THE LORD accepted the form of a fish and protected Vaivasvata Manu - the father of man, keeping him up on an Ark", see AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Srimad Bhagavatam of Krishna Dvaipayana Vyasa. First Canto. (Mumbai, India: the Bhaktivedanta Book Trust, 1995), pp. 146-147

"Ketika terjadi banjir bandang pasca periode Caksusa Manu dan seluruh dunia tenggelam. Tuhan berinkarnasi sebagai ikan dan melindungi Vaivasvata Manu, dengan menempatkan beliau ke atas kapal." Lihat AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Srimad Bhagavatam (Bhagavata Purana). Skanda Satu - Jilid 1 "Ciptaan" (Jakarta: Hanuman Sakti, 2015), hlm. 205-206

Dalam kitab Srimad Bhagavatam Purana VIII.24.41 tertulis demikian:

tata samudra udvelah
sarvatah plavayan mahim
vardhamano maha-meghair
varsadbhih samadrsyata,

"Thereafter, gigantic clouds pouring incessant water swelled the ocean more and more. Thus the ocean began to overflow onto the land and inundate the entire world." see AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Srimad Bhagavatam. Eighth Canto-Part Three (New York: the Bhaktivedanta Book Trust, 1976), pp. 253-254.

"Kemudian, awan-awan mahabesar mencurahkan hujan mahadahsyat yang membuat permukaan lautan terus semakin meninggi. Demikianlah kemudian lautan mulai meluap membanjiri daratan di seluruh dunia." Lihat AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Srimad Bhagavatam (Bhagavata Purana) Skanda VIII Jilid 3 "Peleburan Ciptaan Alam Semesta" (Jakarta: Hanuman Sakti, 2015), hlm. 288.

Itulah sebabnya, kitab hukum yang diterima Manu ini disebut juga kitab Manu Smriti-veda atau disebut kitab Manawa Dharmasastra. Menariknya, nama Manu seakar dengan penyebutan "Man" atau "human" dalam bahasa English, yang satu rumpun dengan bahasa Sanskrit, dan dari istilah Manu inilah kita semua disebut "manusia", sebab kita semua adalah keturunan Manu yang selamat dari peristiwa banjir besar tersebut.

Menariknya, istilah Manu dalam bahasa Sanskrit bermakna "berpikir" atau "kecerdasan", dan itulah sebabnya "manusia" disebut sebagai "animale rationale." Sementara itu, dalam tradisi agama-agama Abrahamic bertradisi Semitik, tokoh Manu ini ternyata sejajar dan identik dengan figur Nuh (نوح) ataupun Noach (נוח), yang juga diperintahkan oleh TUHAN untuk membuat bahtera besar.

Pasca peristiwa banjir besar itulah maka akhirnya TUHAN memberikan hukum Nuh (Noach) yang kemudian disebut Noachic Laws, sebagaimana yang tercatat dalam kitab Mishnah, sebagai תורה שבעל-פה (Torah she be'al phe) bagi penganut agama Yahudi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA