Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Kehadiran Islam di Flores Dahului Kedatangan Portugis

Selasa 20 Aug 2019 16:48 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Pemandangan Fulan Fehan di Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Pemandangan Fulan Fehan di Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Foto: Republika/Dwina Agustin
Sejarah Islam di Flores lebih dulu ketimbang Portugis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dalam catatan sejarah selama ini, kehadiran Islam di Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) identik dengan kehadiran Sultan Menanga atau Shahbudin bin Ali bin Salman al-Farisi. Kadang-kadang muncul asumsi bahwa kehadiran Katholik yang dibawa Portugis lebih dahulu tiba Solor. 

Akan tetapi pandangan tentang sejarah masuknya Islam ke Solor itu dibantah masyarakat Menanga yang mendiami Desa Menanga di Pulau Solor. Mereka meyakini ada ulama yang datang lebih dahulu ke Solor jauh sebelum kehadiran Sultan Menanga dan Portugis.  

Baca Juga

Ulama tersebut dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Sayyid Rifaduddin al-Fatih atau Jou Imam Patiduri dari Hadramaut yang datang ke Solor sekitar abad ke-13. 

Keyakinan masyarakat Menanga didukung bukti fisik dari kehadiran Imam Patiduri. Yakni adanya makam Imam Patiduri di Menanga dan keturunannya yang masih ada sampai sekarang.  

Sejarah masuknya Islam ke Pulau Solor itu dijelaskan dalam jurnal berjudul “Situs Menanga Solor Flores Rimur, Jejak Islam di Nusa Tenggara Timur” yang ditulis Muhamad Murtadlo. Diterbitkan Lektur Keagamaan Kementerian Agama tahun 2017.

Jurnal tersebut menjelaskan bahwa kehadiran Sultan Menanga ke Pulau Solor diduga sebagai permintaan masyarakat Muslim yang telah ada di Solor. Besar kemungkinan masyarakat Muslim meminta Sultan Menanga untuk melakukan syiar agama Islam di Solor. Sekaligus untuk membuat perlawanan terhadap kehadiran Portugis.  

Banyak sejarawan berpendapat bahwa perkembangan Islam di NTT dimulai dari Pulau Solor. Menurut Munandjar Widiyatmika, Solor menjadi daerah pertama yang tersentuh Islam di NTT. Sebab letaknya strategis dan memiliki bandar atau pelabuhan penting seperti Pamakayo, Lohayong, Menanga dan Labala.  

Pelabuhan tersebut sangat penting bagi kapal yang menunggu angin untuk melanjutkan pelayaran ke Pulau Timor dan Maluku. Oleh sebab itu penyebaran Islam dimulai dari lokasi di sekitar Pelabuhan. Karena agama Islam juga dibawa para pedagang. Sementara Pulau Solor menjadi tempat peristirahatan sebelum mereka berlayar kembali.  

Di Pulau Solor tepatnya di Desa Menanga, Kecamatan Solor Timur, terdapat jejak-jejak peradaban Islam. Di sana terdapat fondasi masjid yang didirikan Sultan Mananga di dalam bekas Benteng Menanga. Terdapat pula makam Sultan Menanga dan makam istrinya Nyai Silih Pertawi. Di sana juga ada makam penyiar agama Islam yang pertama di Solor, yaitu makam Imam Patiduri.  

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA