Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Kapan Masjid Agung Demak Dibangun?

Sabtu 17 Aug 2019 11:30 WIB

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Agung Sasongko

Pekerja mengganti sirap kayu jati pada atap Masjid Agung Demak di Demak, Jawa Tengah, Rabu (3/4/2019).

Pekerja mengganti sirap kayu jati pada atap Masjid Agung Demak di Demak, Jawa Tengah, Rabu (3/4/2019).

Foto: Antara/Aji Styawan
Mengenai kapan masjid ini didirikan ada sejumlah petunjuk.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Berdasarkan catatan sejarah yang ada di Museum Masjid Agung Demak, bangunan masjid simbol akulturasi ini berdiri sekitar abad ke-15 Masehi. Hal ini dapat diketahui dari prasasti sekaligus petunjuk waktu Jawa (candrasengkala) yang terukir pada pintu utama yang ada di tengah masjid.

Mengenai kapan masjid ini didirikan ada sejumlah petunjuk. Raden Patah bersama Wali Songo disebut-sebut mendirikan masjid ini dengan memberi prasasti bergambar bulus (sejenis kura- kura). Hal ini sesuai dengan penanda waktu dengan arti Sariro Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka yang terdapat dalam dinding mihrab bagian dalam.

Baca Juga

Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka satu (1), kaki empat berarti angka empat (4), badan bulus yang bulat berarti angka nol (0), serta ekor bulus berarti angka satu (1). Dari petunjuk ini bisa disimpulkan, Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka. Namun, dalam prasasti itu yang tertulis di pintu utama terdapat kalimat naga mulat salira wani. Artinya, dalam penanda waktu ini tertulis tahun 1388 Saka atau 1466 Masehi atau tahun 887 Hijriyah.

Petunjuk inilah yang akhirnya diyakini sebagai awal dibangunnya Masjid Agung Demak oleh para Wali Songo untuk mendukung penyebaran Islam di tanah Jawa. Sejak pertama kali didirikan, Masjid Agung Demak baru dipugar pertama kali oleh Raja Mataram Paku Buwono I, pada tahun 1710. Pemugaran ini dilakukan untuk mengganti atap sirap yang sudah lapuk.

Perluasan besar-besaran untuk menjadi masjid agung diperkirakan berlangsung pada 1504-1507. Pada masa itu, penyebaran agama Islam makin meluas di wilayah Demak.Sementara itu, pembangunan menara azan baru dilakukan pada Agustus 1932. Bangunan menara dengan kubah bergaya Melayu ini berkonstruksi baja. Pembuatan menara azan ini konon menelan biaya 10 ribu gulden.

Masjid Agung Demak terletak di sebelah barat alun-alun kota Demak. Umumnya, tata letak kota kuno di Jawa selalu menempatkan alun-alun sebagai ruang publik. Hingga kini, peran Masjid Agung Demak tak banyak berubah.

Bahkan, masjid ini juga menjadi aset wisata religi yang ramai disinggahi para wisatawan, baik mancanegara maupun wisatawan Nusantara.Pasalnya, selain makam para pejuang Muslim kesultanan Demak, juga terdapat museum yang menyimpan sejarah masjid, benda- benda bersejarah Kesultanan Demak, perpustakaan, serta wisma tamu.  

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA