Sabtu, 16 Zulhijjah 1440 / 17 Agustus 2019

Sabtu, 16 Zulhijjah 1440 / 17 Agustus 2019

Islam di Prancis dan Jasa Para Imigran

Selasa 13 Agu 2019 17:47 WIB

Red: Agung Sasongko

Muslim Prancis

Muslim Prancis

Prancis menjadi negara dengan pemeluk Islam terbesar di Eropa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Islam adalah agama yang damai, universal, dan rahmat bagi seluruh alam. Karena dasar itu, agama Islam pun dapat diterima dengan baik di berbagai belahan bumi ini. Mulai dari jazirah Arabia, Asia, Afrika, Amerika, hingga Eropa. Pada abad ke-20, Islam berkembang dengan sangat pesat di daratan Eropa. 

Perlahan-lahan, masyarakat di benua biru yang mayoritas beragama Kristen dan Katholik ini mulai menerima keha dir an Islam. Tak heran bila kemudian Islam menjadi salah satu agama yang mendapat perhatian serius dari masyarakat Eropa. Di Prancis, Islam berkembang pada akhir abad ke-19 dan awal ke-20 M.

Bahkan, pada tahun 1922, telah berdiri sebuah masjid yang sangat megah bernama Masjid Raya Yusuf di ibu kota Prancis, Paris. Hingga kini, lebih dari 1000 masjid berdiri di seantero Prancis. Di negara ini, Islam berkembang melalui para imigran dari Afrika, seperti Aljazair, Libya, Maroko, Mauritania, dan lainnya.

Sekitar tahun 1960-an, ribuan buruh Arab berimigrasi (hijrah) secara besar-besaran ke daratan Eropa, terutama di Prancis. Saat ini, jumlah penganut agama Islam di Prancis mencapai tujuh juta jiwa. Dengan jumlah tersebut, Prancis menjadi negara dengan pemeluk Islam terbesar di Eropa. Menyusul kemudian negara Jerman sekitar empat juta jiwa dan Inggris sekitar tiga juta jiwa.

Peran buruh migran asal Afrika dan sebagian Asia membuat agama Islam berkembang dengan pesat. Mereka mendirikan komunitas atau organisasi untuk mengembangkan Islam. Secara perlahan- lahan, penduduk Prancis pun makin banyak yang memeluk Islam. Karena pengaruhnya yang demikian pesat itu, Pemerintah Prancis sempat melarang buruh migran melakukan penyebaran agama, khususnya Islam.

Pemerintah Prancis khawatir organisasi Islam yang dimotori para buruh tersebut akan membuat pengkotak-kotakan masyarakat dalam beberapa kelompok etnik. Sehingga, dapat menimbulkan disintegrasi dan dapat memecah belah kelompok masyarakat. Tak hanya itu, pintu keimigrasian bagi buruh-buruh yang beragama Islam pun makin dipersempit, bahkan ditutup.

Meski demikian, masyarakat Arab yang ingin berpindah ke Prancis tetap meningkat. Pintu ke arah sana semakin terbuka. Pelajar Muslim Pada tahun 1970-an, imigran Muslim kembali mendatangi negara pencetus trias politica itu. Kali ini, para pelajar Muslim yang datang ke Prancis untuk menuntut ilmu. Kedatangan para pelajar ini menjadi faktor penting yang mengambil peran besar dalam mendo rong penyebaran Islam di jantung negeri Napoleon Bonaparte ini.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA