Rabu 07 Aug 2019 12:12 WIB

Masuk ke Dalam Masjid Talomanoh, Seperti Apa?

Masjid Talomanoh beratapkan daun palem.

Masjid Talomanoh.
Foto: Bujangmasjid.blogspot.com
Masjid Talomanoh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebelum masuk ke dalam masjid bersejarah Talomanoh itu, para jamaah atau pengunjung harus melewati sebuah 'jembatan' terlebih dahulu. Jembatan itu letaknya hampir setara dengan pintu masuk masjid yang memang berdiri di atas fondasi seperti rumah panggung.

Model ini berasal dari kebudayaan Melayu atau Asia Tenggara yang sebagian besar rumahnya dibuat seperti panggung. Rumah panggung seperti itu biasanya dibangun di daerah-daerah yang basah.

Baca Juga

Masjid tersebut terdiri dari dua bagian yang tersambung satu dengan yang lainnya. Seluruhnya dibuat dari kayu yang saling tersambung, tanpa menggunakan paku, sesuai dengan gaya bangunan Thailad dan Melayu. Arsitek masjid itu memilih menggunakan pasak kecil sebagai pengganti paku untuk menggabungkan satu kayu dengan kayu lain pada konstruksi masjid.

Ukiran yang terdapat di jendelanya menunjukkan sifat kayu yang dipakai dan kreativitas yang artistik dan juga kepraktisan struktural. Detail ukiran yang menjadi perhatian adalah brackets kayu yang terdapat di bawah atap. Selain itu, ada pula pahatan yang berdiri di puncak atap yang melengkung.

 

Masjid tersebut aslinya beratapkan daun palem. Dalam proses rekonstruksi diganti dengan atap dari tanah liat merah yang dibakar. Atapnya yang berjenjang merupakan arsitektural tradisional dari Asia Tenggara. Di tengah-tengah bangunan terdapat atap pelana.

Di belakang atap tersebut terdapat menara azan yang dibuat dengan gaya Cina. Lubang udara menara yang terdapat di setiap sisi menara sempit tersebut diukir dengan ukiran daun, bunga, dan desain Cina.

Masjid tiga abad itu masih aktif sebagai bangunan religius. Para pengunjung harus mendapatkan izin dari Imam desa untuk dapat memasukinya. Tidak jauh dari masjid tersebut terdapat pemakaman umat Muslim setempat.

Di pemakaman tersebut terdapat batu bundar yang menandakan makam laki-laki, sedangkan batu nisan yang terdapat di atas makam perempuan hanya terlihat setengahnya saja. Hal ini dilakukan sesuai dengan adat setempat.

sumber : Mozaik Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement