Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tantangan Mengurangi Sampah Plastik

Ahad 04 Agu 2019 05:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Sampah plastik

Sampah plastik

Foto: abc news
Sampah menkadi masalah yang penangannya sempurna.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTS --- Sampah hingga kini masih menjadi masalah yang penanganannya belum sempurna. Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi volume sampah yang kian hari kian bertambah.

Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Muhammadiyah pun secara tegas memerangi sampah plastik. Bersama Ketua MLH PP Muhammadi yah, Prof Muhjidin Mawardi, wartawan Republika, Zahrotul Oktaviani mendalami hal-hal yang sudah dilakukan lembaga ini.

Apa yang membuat Muhammadiyah tergerak untuk memerangi penggunaan plastik dan mengurangi sampahnya? 

Awalnya itu sejak tahun 2010. Bahkan, sebelumnya sudah ada upaya menekan penggunaan plastik. Utamanya mengurangi penggunaan minuman menggunakan plastik atau air kemasan. Air kemasan ini saja sudah melanggar undang-undang. 

Bagaimana upaya MLH Muhammadiyah dan Muhammadiyah memerangi sampah? 

Kita lakukan usaha-usaha dan kegiatan, sebagaimana yang sudah sejak dulu dilakukan melalui bank sampah dan gerakan penyadaran pada masyarakat untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Penyadaran ini selalu kita lakukan dan tidak berhenti digaungkan. Tidak sekadar seremoni. Usaha ini terus dilakukan utamanya melalui 3R, Reduce, reuse, dan recycle. 

Upaya yang paling bisa dilakukan untuk mengurangi sampah ya berarti mengurangi penggunaannya. Namun, kesadaran masyarakat juga harus disentuh untuk ini. Masyarakat sekarang amat sangat tergantung pada plastik meskipun sudah tahu bahaya dari plastik. Ini sama dengan kondisi rokok, sudah tahu bahayanya, tapi masih banyak yang merokok. 

Saya kira pengurangan ini selalu kita fokuskan. Kita anjurkan dan sarankan baik kepada masyarakat maupun keluarga Muhammadiyah kalau mau menyajikan hidangan utamanya minuman, penggunaan botol plastik atau gelas plastik itu dikurangi. Kembali ke penggunaan gelas atau barang yang tidak sekali pakai. 

Di sekolah-sekolah Muhammadiyah, kita ada gerakan mengurangi plastik, tapi ini butuh proses. Penyadaran terutama pada generasi muda, butuh waktu. Tidak seperti membalik tangan. Kepada rumah tangga, ya kita sarankan bawalah tas belanja sendiri. Kita edarkan juga tas belanja yang tidak sekali pakai kepada kelompok-kelompok ibu-ibu di Muhammadiyah. Gerakan sedekah sampah, ini ke depannya diharap bisa dikembangkan dan disebarluaskan selain adanya bank sampah. Ini bisa dimulai dari tingkat wilayah atau daerah. 

Kebijakan pemerintah dalam mengurangi sampah plastik? 

Pemerintah kita lihat kebijakannya belum mendukung. Kurang mendu kung. Pemerintah, menurut saya, kalau mau, bisa mengeluarkan peraturan baik pemerintah atau menteri yang berkaitan dengan sampah plastik ini. Cukai plastik itu ya dijalankan. Kebijak an yang dikeluarkan bisa menekan pabrik-pabrik sampah, menekan produksi plastik, bahkan menekan penggunaan plastik di pasar-pasar modern maupun tradisional. Menambah biaya saat menggunakan kantung plastik, saya kira peraturannya belum ada dan belum berjalan semua.

Menurut saya, pemerintah belum memberikan dorongan yang kuat kepada masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik. Setidaknya dikurangi kalau tidak bisa menghentikan. Paling tidak separuhnya dari kebiasaan. Utamanya di rumah tangga. Meskipun kita sudah bergerak memberikan imbauan, kebijakannya belum mendukung, ya orang akan kembali lagi.

Tantangan lain dalam mengurangi sampah plastik ini? 

Ya masalahnya kita belum seiya sekata antara pihak-pihak yang concern dalam peperangan akan sampah ini dengan pihak-pihak yang berkepentingan di industri plastik. Mereka yang berkecimpung di industri plastik belum diberikan kompensasi entah dalam bentuk pajak atau lainnya. Mereka masih leluasa dalam memproduksi plastik.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA