Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Kampus Tazkia Menjadi Institut Agama Islam

Selasa 30 Jul 2019 14:39 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Hasanul Rizqa

Launching perubahan status Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) menjadi Institut Agama Islam Tazkia di Gedung Kampus Tazkia, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Selasa (30/7).

Launching perubahan status Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) menjadi Institut Agama Islam Tazkia di Gedung Kampus Tazkia, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Selasa (30/7).

Foto: Republika/Rahma Sulistya
Tazkia menjadi institut, angkatan pertama mencapai 400 orang

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Kampus Tazkia beralih status dari sekolah tinggi menjadi institut. Perubahan status ini terjadi tepat 18 tahun sejak berdirinya kampus tersebut. Pada angkatan pertama, jumlah mahasiswa yang belajar di Institut Agama Islam Tazkia mencapai 400 orang. Angka tersebut ditargetkan meningkat setiap tahun.

Pada kesempatan ini, Rektor Tazkia Dr Murniati Mukhlisin mengungkapkan, pihaknya kini masih menanti penyelesaian pembangunan gedung kampus kedua dan asrama. Dengan selesainya kedua proyek itu, kampus tersebut dapat kian menambah pendaftaran calon mahasiswa baru lantaran meningkatnya kapasitas gedung.

Baca Juga

“Kita sedang upayakan kampus baru. Dan untuk tahun 2020 nanti, bisa mencapai 500 orang, bahkan ribuan orang,” kata Murniati Mukhlisin saat ditemui usai peluncuran status Institut Agama Islam Tazkia di Gedung Kampus Tazkia, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Selasa (30/7).

Kampus Tazkia, lanjut dia, bisa saja menerima hingga ribuan orang mahasiswa baru, asalkan mereka tidak menetap di asrama. Hanya saja, pihaknya mengadakan kebijakan tahfiz Alquran. Adanya asrama bagi mahasiswa/mahasiswi tahun pertama membuat proses tahfiz itu berlangsung kondusif. Di samping konsisten menghafal Alquran, mereka juga dibiasakan melakukan disiplin, pendalaman syariah, dan sebagainya.

 

Setelah Resmi Jadi Institut

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama Nomor 449 Tahun 2019, Kampus Tazkia telah resmi berubah status, yakni dari sekolah tinggi menjadi institut agama Islam. Secara resmi, perubahan status ini terjadi sejak 22 Mei 2019 atau 17 Ramadhan 1440 Hijriah.

Surat Keputusan Badan Pengurus Yayasan Tazkia Nomor 32 Tahun 2019 juga menetapkan kembali Dr Murniati Mukhlisin sebagai rektor Institut Agama Islam Tazkia. Saat ini, Dr Muhammad Syafii Antonio duduk sebagai ketua pembina Yayasan Tazkia Cendekia.

Dari segi fondasi keilmuan, Tazkia tetap mengembangkan keuangan syariah dan ekonomi syariah. Saat ini, Institut Agama Islam Tazkia memiliki tiga fakultas, yakni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Fakultas Hukum/Syariah, dan Fakultas Pendidikan/Tarbiyah.

“Jadi ekonomi syariah itu fondasi dasar. Di mana kita kembangkan institut, juga akan mengembangkan program studi berdasarkan ekonomi syariah. Misalnya, pendidikan. Untuk di Tazkia, tetap harus ada pengaplikasian ekonomi syariah, begitu juga di hukum. Jadi, itu keunikan di Institut Tazkia,” tutur Murniati.

Dilihat dari sejarahnya, Kampus Tazkia pertama kali memulai program hanya dengan 24 mahasiswa pada 2000 lalu. Saat ini, Tazkia mendidik lebih dari dua ribu orang 2.000 mahasiswa, baik dari Indonesia maupun negara-negara lain, semisal Malaysia, Thailand, Filipina, Maroko, Yaman, dan Palestina.

Secara institusi, Kampus Tazkia sangat fokus pada pengembangan ekonomi syariah, mulai dari teori hingga praktik. Sampai dengan saat ini, Kampus Tazkia telah meluluskan 2.087 alumni dari jenjang sarjana, diploma, dan master. Mereka tersebar di pelbagai sektor, mulai dari wirausaha industri halal, akademisi ekonomi, bisnis syariah, dan lain sebagainya.

Prestasi Kampus Tazkia juga perlu diakui luar biasa. Salah satunya adalah penghargaan sebagai Centre of Excellence Kampus Ekonomi Syariah dari Kementerian Agama (Kemenag) RI. Para dosen dan mahasiswa/mahasiswi juga aktif dalam bidang akademik, baik di dalam maupun luar negeri.

Saat ini mahasiswa yang aktif berjumlah 2.003 orang, dimana regulasi yang diterapkan pada mahasiswa dua fakultas baru lainnya, juga sama dengan STEI sebelumnya. Mereka wajib menghafal 1 juz Alquran, sehingga dapat dipastikan penghafal Alquran 1 juz jumlahnya 100 persen.

Kemudian untuk yang hafal di atas 1 juz berjumlah hampir 50 persen, dan yang hafal 30 juz ini sekitar 10 persen. “Mahasiswa terbaik pertama tahun lalu itu penghafal 30 juz, terbaik kedua juga penghafal 30 juz. Mereka linier dengan akademik mereka,” kata Murniati.

Ke depannya, ia berharap institut ini bisa menjadi wadah yang lebih besar lagi untuk menampung program studi baru lainnya. Misalnya dalam bidang teknologi dan tetap berfokus pada teknologi financial. Misalnya, saat ini digital ekonomi sedang digalakkan di Indonesia dan belahan dunia lain, harapannya Kampus Tazkia bisa melahirkan mahasiswa/mahasiswi yang handal dalam ekonomi dan teknologi.

“Setelah menjadi institut, Kampus Tazkia diharapkan dapat memberi kontribusi yang besar, luas, dan berkesinambungan terhadap umat, bangsa, dan negara. Serta dapat tampil unggul baik di level nasional maupun internasional,” papar Murniati.

photo

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc (Ketua, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia/ Founder, Sakinah Finance)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA