Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Kantong Plastik Berteknologi Oxium Terbuat dari Singkong?

Senin 29 Jul 2019 16:49 WIB

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Hasanul Rizqa

Kantong plastik berteknologi oxium atau oxo-biodegradable yang dapat terurai setelah 3 hingga 5 tahun.

Kantong plastik berteknologi oxium atau oxo-biodegradable yang dapat terurai setelah 3 hingga 5 tahun.

Foto: dok. Istimewa
Pihak produsen kantong plastik ini beri klarifikasi soal isu bahan baku dari singkong

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pihak Greenhope atau PT Harapan Interaksi Swadaya selaku produsen teknologi, paten, dan merek dagang oxium memberi penjelasan seputar kantong plastik berteknologi oxium. Menurut Direktur Utama PT Harapan Interaksi Swadaya Tommy Tjiptadjaja, ada beberapa hal yang perlu klarifikasi.

Baca Juga

"Reseller independen kami yang salah menyebutkan teknologi oxium, plastik oxo-biodegradable sebagai ecoplas, plastik yang terbuat dari singkong . Kami menyadari, hal ini menimbulkan kebingungan di masyarakat. Untuk itu, kami ingin menyampaikan beberapa klarifikasi," kata Tommy Tjiptadjaja melalui siaran pers yang diterima Republika.co.id, Senin (29/7).

Dia menjelaskan, oxium atau plastik oxo-biodegradable bukan plastik yang terbuat dari singkong. Bagaimanapun, produk ini mengandung aditif yang mampu mengurai plastik dalam waktu dua hingga lima tahun. Kandungan ini ditandai dengan berkurangnya bobot molekul plastik dan berubah menjadi H2O, CO2 dan biomassa. Hal itu sudah diuji menggunakan standar ASTM D 6954, D 5208, dan D 3826.

Dia menambahkan, oxium sudah tersertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) Ekolabel ramah lingkungan 7188:7, Ekolabel Swadeklarasi Mudah Terurai yang dikeluarkan oleh KLHK, Sertifikasi Halal, Ekolabel Singapura hingga Ekolabel Malaysia. Oxium juga sudah mendapat Paten Indonesia, Paten Amerika dan Paten Singapura.

"Oxium sudah banyak diteliti oleh peneliti independen dan kredibel baik nasional seperti ITB, UNESA dan lain-lain, maupun internasional yang jurnal-jurnal ilmiahnya dapat diakses secara online juga," ujarnya.

Tommy menegaskan bahwa teknologi oxium merupakan teknologi plastik oxo-degradable ramah lingkungan. Karena mudah terurai, sudah teruji dan tersertifikasi. Sehingga tidak perlu diragukan lagi keabsahannya. Dia berharap pernyataan resmi Greenhope bisa menjawab keresahan-keresahan di masyarakat dan dapat meluruskan agar tidak menjadi hoax.

Reseller independen dari Greenhope, Duddy Setiabudhi juga memohon maaf atas kesimpangsiuran yang terjadi tentang kantong plastik berteknologi oxium. Sebelumnya telah viral berita tentang kantong plastik berteknologi oxium berbahan dasar singkong. Hal itu terjadi karena tanpa sengaja salah sebut kantong plastik berteknologi oxium berbahan dasar singkong.

Duddy juga menegaskan, bahwa dirinya tidak memproduksi kantong plastik berteknologi oxium tersebut tapi hanya menjualnyanya ke lingkungan sekitar di Bekasi. Akan tetapi informasi tentang kantong plastik yang dijualnya menyebar ke mana-mana.

Dia mengatakan, plastik yang dijualnya bukan berbahan dasar singkong tapi berteknologi oxium. Orang-orang jangan sampai salah sangka, plastik berteknologi oxium bukan berbahan dasar singkong sehingga tidak bisa terurai dalam air.

"Tapi plastik ini ada kelebihannya, dibandingkan dengan plastik yang lama itu (yang) puluhan tahun masih ada (karena sulit terurai), kalau ini Insya Allah dalam waktu tiga sampai lima tahun pasti hancur," jelasnya.

Tujuan Duddy menjual plastik tersebut hanya agar masyarakat menggunakan plastik yang lebih ramah lingkungan. Dua tahun lalu dia bagikan plastik ramah lingkungan secara gratis karena bagus untuk lingkungan. Tapi sekarang dia menjualnya karena tidak punya dana lebih untuk membagikan secara gratis seperti dulu.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA