Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Ketika Kita Marah

Jumat 19 Jul 2019 06:06 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilustrasi orang marah.

Ilustrasi orang marah.

Foto: Pixabay
Seorang Muslim hendaknya menjauhi kemarahan karena urusan dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- ‘’Jangan marah!’’ begitu sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang bisa saja marah. Barangkali marah adalah sesuatu yang manusiawi. Lalu apa makna hadis  Nabi SAW itu?

Ibnu Hajar dalam al-Fath menjelaskan makna hadis itu: ‘’Al-Khaththabi berkata, ‘’Arti perkataan Rasulullah SAW ‘jangan marah’ adalah menjauhi seba-sebab marah dan hendaknya menjauhi sesuatu yang mengarah kepadanya.’’ Menurut ’Al-Khaththabi, marah itu tidaklah terlarang, karena itu adalah tabiat yang tak akan hilang dalam diri manusia.

Nah, apa yang harus dilakukan seorang Muslim ketika marah? Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitab Mausuu’atul Aadaab al-Islamiyah, mengungkapkan hendaknya seorang Muslim memperhatikan adab-abad yang berkaitan dengan marah. Berikut  adab-adab yang perlu diperhatikan terkait marah.

Pertama, jangan marah, kecuali karena Allah SWT. Menurut Syekh Sayyid Nada, marah karena Allah merupakan sesuatu yang disukai dan mendapatkan amal. Misalnya, marah ketika menyaksikan perbuatan haram merajalela. Seorang Muslim yang marah karena hukum Allah diabaikan merupakan contoh marah karena Allah.

‘’Seorang Muslim hendaknya menjauhi kemarahan karena urusan dunia yang tak mendatangkan pahala,’’ tutur Syekh Sayyid Nada. Rasulullah SAW, kata dia, tak pernah marah karena dirinya, tapi marah karena Allah SWT.  Nabi SAW pun tak pernah dendam, kecuali karena Allah SWT.

Kedua, berlemah lembut dan tak marah karena urusan dunia. Syekh Sayyid Nada mengungkapkan, sesungguhnya semua kemarahan itu buruk, kecuali karena Allah SWT. Ia mengingatkan, kemarahan kerap berujung dengan pertikaian dan perselisihan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar dan bisa pula memutuskan silaturahim.

Ketiga, mengingat keagungan dan kekuasaan Allah SWT.  ‘’Ingatlah kekuasaan, perlindungan, keagungan, dan keperkasaan Sang Khalik ketika sedang marah,’’ ungkap Syekh Sayyid Nada.  Menurut dia, ketika mengingat kebesaran Allah SWT, maka kemarahan akan bisa diredam. Bahkan, mungkin  tak jadi marah sama sekali.
Sesungguhnya, papar Syekh Sayyid Nada, itulah adab  paling bermanfaat  yang dapat menolong seseorang untuk berlaku santu (sabar).


sumber : Dialog Jumat Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA