Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Tawaf

Kamis 11 Jul 2019 14:20 WIB

Red: Agung Sasongko

Umat Muslim melakukan Tawaf keliling Kabah sebagai bagian dari pelaksanaan ibadah Umroh di Masjidil Haram, Makkah Al Mukarramah, Arab Saudi, Jumat (3/5/2019).

Umat Muslim melakukan Tawaf keliling Kabah sebagai bagian dari pelaksanaan ibadah Umroh di Masjidil Haram, Makkah Al Mukarramah, Arab Saudi, Jumat (3/5/2019).

Foto: Antara/Aji Styawan
Tawaf itu sendiri secara lughawi berarti gerak putar mengelilingi kawasan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fauzul Iman

JAKARTA -- "Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada di badan mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka, dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah).... (QS al-Haj: 29).

Ayat ini berdengung di tengah kaum yang batinnya penuh noda. Mereka tidak komitmen memegang janji/nazar dengan Tuhannya. Lalu, mereka bertawaf mengelilingi Ka'bah. Di antara yang bertawaf itu terdapat kaum jahili primitif yang bertelanjang bulat tidak menghormati rumah suci.

Fanomena tawaf yang bernoda ini diseru Tuhan dengan tegas agar menghilangkan kotoran dari badan. Ini mengisyaratkan bahwa setiap tawaf (perjalanan manusia) dikehendaki Tuhan agar mengandung misi, visi, dan niat batin yang bersih. Perjalanan hidup tanpa badan dan jiwa bersih dengan sendirinya akan mengerdilkan makna perjalanan suci tersebut.

Tawaf itu sendiri secara lughawi berarti gerak putar mengelilingi kawasan. Sementara, secara syar'i berarti mengelilingi Ka'bah, diawali dan berakhir di depan Hajar Aswad. Pengertian ini menggambarkan bahwa tawaf bukan dipandang ritual ibadah belaka, melainkan gerak perjalanan kehidupan yang terus dinamik.

Schumacher dalam Beautiful is Small menegaskan, kehidupan manusia adalah gebrakan langsung yang tiada bisa disetop. Kehidupan, menurutnya, terus bergerak melingkar ke depan dan tiada mungkin dibelokkan ke belakang.

Sinyalmen Schumecher ini sejalan dengan makna yang terkandung dalam gerak dinamik tawaf yang didesain Tuhan. Dengan kata lain, gerak tawaf telah mengajarkan umat manusia agar menanamkan niat yang bersih serta langkah-langkah/strategi yang matang dan benar sebelum program kehidupan yang dituju diwjudkan. Ini dilakukan sebagai upaya preventif dan efesiensi karena program kehidupan yang sudah terwujud tidak mungkin lagi belokkan ke belakang yang menyebabkan rencana menjadi berantakan dan porak-poranda.

Tawaf juga melambangkan penyadaran umat manusia untuk menempuh prestasi dengan piawai dan sabar. Prestasi yang sedang dikejar di tengah perjalanan kerap mengalami batu ujian yang melelahkan dan gesekan yang amat keras. Dari ritual tawaf inilah umat manusia diberi pelatihan yang menantang dan benturan yang amat keras. Kebanyakannya tidak mudah bagi mereka yang ingin menggapai pertemuan dengan Hajar Aswad sebelum terlebih dahulu direbahkan dalam badai dan gelombang masa yang demikian besar.

Setelah capaian prestasi digapai, manusia harus menyadari pula tentang batas siklus kehidupannya. Putaran tawaf merefleksikan batas rotasi bumi terhadap matahari yang ditandai dengan pergantian malam dan siang. Manusia tidak akan lama berada di zona nyaman pasti akan mengalami pergantian status dan derajat yang disandangnya.

Karena itu, manusia dalam dunia yang bulat tidak boleh merasa tunggal sendiri. Dalam perjuangan hidup, manusia mesti berbagi dan melebur dalam posisi dan kedudukan yang sama sebagai makhluk Tuhan. Mereka tidak boleh sombong dan saling caci maki dalam skisma diskriminasi

Adalah tepat sekali Ali Syariati, cendekiawan Muslim, menggambarkan keunikan ritual tawaf sebagai media pengheningan pluritas baru dari gaya kehidupan umat yang makin dirobohkan oleh kecongkakan sosialnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA