Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

TGB Sebut Menjadi Dai Perlu Kualifikasi

Jumat 05 Jul 2019 20:28 WIB

Rep: Nugroho Habibie/ Red: Muhammad Hafil

Ketua Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi setelah menghadiri acara halal bihalal relawan Jokowi bersatu di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (5/7).

Ketua Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi setelah menghadiri acara halal bihalal relawan Jokowi bersatu di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (5/7).

Foto: Republika/Nugroho Habibi
Pengaderan para dai perlu dilaksanakan lebih intensif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi mengatkan, menjadi pendakwah atau da'i perlu kualifikasi. Hal itu disampaikan, menyusul banyaknya masyarakat yang terpapar paham radikalisme.

TGB mengatakan para pendakwah merupakan lidah agama dalam menyampaikan nilai-nilai agama terhadap masyarakat. Karena itu, pendakwah harus memiliki standar yang mumpuni.

"Pengkaderan para dai itu perlu dilaksanakan lebih intensif," kata TGB saat ditemui Republika.co.id, di Jakarta, Jumat (5/7).

Mantan gubernur Nusa Tenggara Barat itu mengatakan, di Indonesia menjadi da'i terbilang cukup mudah. Bahkan, dia menyatakan, orang yang baru belajar agama dan mua'alaf sekalipun dengan mudah jadi pendakwah.

"Kan sekarang di Indonesia ini orang baru masuk islam besok sudah jadi Ustaz," ucapnya.

TGB mengatakan, adanya paham ekstrimis atau radikalis salah satunya disebabkan oleh konten yang disampaikan para pendakwah. Oleh sebab itu, masayarakat yang turut terpengaruh.

"Kenapa (berpaham radikal) karena materi yang mereka terima cendrung ekstrism," ucapnya.

Pengkaderan dan pelatihan sangat penting dilakukan agar mereka menyampaikan konten yang menyejukkan pada masyarakat. Dia meminta komponen didalam pemerintah juga turut terlibat dan memperhatikan persebaran para pendakwah tersebut.

"Negara punya Kementrian, masyarakat ada ormas-ormas (organisasi masyarakat) itu semua bisa bekerja secara terintegrasi," ucapnya.

Sebelumnya, Setara Institute melakukan penelitian dan menyatakan banyak mahasiswa yang berpandangan radikalisme. Hasilnya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung (SGD) paling konservatif dalam beragama.

Setara Institute merilis survei tersebut yang menyatakan, UIN Jakarta dan UIN SGD Bandung memperoleh nilai tertinggi dengan potensi menjadi akar ekslusivisme dan perilaku intoleran dibandingkan delapan kampus lain yang masuk objek penelitian. Dua kampus tersebut memiliki mayoritas mahasiswa bercorak agama fundamentalis.

Berdasarkan dari penelitian tersebut, jika ditinjau dari poin yang ada, UIN Bandung mendapat poin 45,0 dan UIN Jakarta mendapat poin 33,0. Kemudian, Unram mendapat 32,0 poin, IPB mendapat poin 24,0 poin, UNY mendapat poin 22,0 poin, UGM memperoleh 12,0 poin, Unibra memperoleh 13,0 poin, ITB mendapat 10,0 poin, Unair mendapat poin 8,0 dan UI memperoleh poin 7,0.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA