Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Muhammadiyah Minta Politik Partisan 01 dan 02 Diakhiri

Jumat 28 Jun 2019 19:02 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Nashih Nashrullah

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menghadiri kajian Ramadhan di  Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (18/5).

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menghadiri kajian Ramadhan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (18/5).

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Saatnya mengakhiri politik partisan 01 dan 02 menuju Indonesia maju.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA— Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan politik partisan 01 dan 02 sudah berakhir serta tidak perlu diperpanjang dalam isu dan kepentingan apapun, yang ada adalah satu keluarga besar Indonesia. Bangsa ini memerlukan kebersamaan dari seluruh kekuatan nasional. 

Baca Juga

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengatakan tugas dan tantangan bersama bangsa Indonesia saat ini dan ke depan sangatlah berat di berbagai bidang kehidupan yang memerlukan tekad dan kesungguhan politik yang tinggi bagi pemegang mandat rakyat lebih dari kemenangan itu sendiri.     

Haedar menegaskan presiden dan wakil presiden untuk semua dan bukan untuk satu golongan pemilih dan pendukungnya saja, sehingga harus mengayomi dan menjadi pemimpin seluruh rakyat Indonesia. "Rekonsiliasi politik dan kultural menjadi keniscayaan dari suruh pihak secara autentik dan sungguh, bukan sebagai retorika publik," kata Haedar, dalam keterangannya kepada Republika.co.id, di Jakarta, Jumat (28/6) 

Haedar mengajak pascakeputusan MK bagi seluruh rakyat dan kekuatan bangsa untuk melangkah bersama meraih masa depan Indonesia berkemajuan guna menyelesaikan masalah-masalah besar bangsa guna mewujudkan cita-cita nasional yang kian berat dan penuh tantangan.  

"Tidak perlu eforia dalam kemenangan karena masalah dan tantangan Indonesia sangatlah berat dan kompleks. Jauhi pula keterbelahan bangsa akibat sikap politik yang negatif dan ekses dari pemilu. Jangan sampai Indonesia terkapling-kapling dalam primordialisme dan pengkutuban politik, agama, dan golongan yang menyebabkan lemahnya persatuan Indonesia," kata dia. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA