Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Sumur Wakaf Atasi Kekeringan Way Kanan

Jumat 28 Jun 2019 18:16 WIB

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Dwi Murdaningsih

Wakaf Sumur. Wakaf sumur diberikat untuk warga Kampung Sawati, Tasikmalaya.

Wakaf Sumur. Wakaf sumur diberikat untuk warga Kampung Sawati, Tasikmalaya.

Foto: Rumah Zakat
Sumur Wakaf pertama kali berjalan pada tahun 2015 lalu di Provinsi Lampung.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Masyarakat di Desa Mulya Agung, Kecamatan Negeri Agung, Kabupaten Way Kanan, Lampung mulai merasakan kekeringan air pada bulan ini. Hadirnya sumur wakaf membuat masyarakat setempat terbantu penyediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

“Hari kelima setelah Idul Fitri kami mulai pengeboran. Enam hari setelahnya, kedalaman pengeboran mencapai 60 meter dan air keluar dengan banyak. Bahkan, seharian tidak habis airnya,” kata Kepala ACT Cabang Lampung – Global Wakaf, Dian Eka Darma Wahyuni di Bandar Lampung, Jumat (28/6).

Menurutnya, daerah yang dihuni oleh transmigran asal Jawa dan Bali sejak 1983 ini, memang minim air sejak dahulu. Tekstur tanah yang keras jadi penyebab sumur galian yang diandalkan oleh warga tidak mengeluarkan air secara maksimal.

“Untuk air dari Sumur Wakaf pun masih perlu kami maksimalkan lagi agar jernih dan dapat mengalir ke rumah-rumah warga. Kami sedang melakukan penjernihan sumur agar air tidak mengandung butiran pasir. Kami juga tengah membangun tangki air dan pipa-pipa menuju  rumah warga,” ujar Dian.

Sebelumnya, ketika musim kemarau tiba, sumur galian yang biasa dimanfaatkan oleh warga akan mengering hingga airnya benar-benar habis. Satu-satunya sumber yang bisa dimanfaatkan adalah air dari aliran sungai. Tetapi sungai tersebut tidak benar-benar dekat dengan tempat tinggal masyarakat Desa Mulya Agung.

 “Kalau kemarau warga Desa Mulya Agung biasa mengambil air dari sungai. Itu pun debit airnya kecil dan agak keruh warna airnya. Jarak antara desa ke sungai sendiri juga cukup jauh, sekitar 13 kilometer,” kata Dian.

Meski sering menghadapi kekeringan, warga sekitar tidak pernah membeli air. Pilihan mereka adalah mengambil air ke sungai atau dusun-dusun tetangga yang jarak kesemuanya rata-rata cukup jauh dari tempat mereka tinggal, dan menampungnya di jerigen untuk persediaan.

Sejauh ini tak hanya Desa Mulya Agung, Global Wakaf juga tengah membangun Sumur Wakaf di titik lain di kecamatan tersebut dikarenakan kondisinya yang serupa dengan Desa Mulya Agung, di antaranya di Desa Bandar Dalam dan Dusun II yang kini juga sedang dalam tahap pengerjaan.

Ketiga Sumur Wakaf di titik tersebut adalah bagian dari ikhtihar untuk mengentaskan kekeringan di Kecamatan Negeri Agung. Upaya dari Global Wakaf itu terus berlanjut sejak program Sumur Wakaf pertama kali berjalan pada tahun 2015 lalu di Provinsi Lampung.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA