Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Keutamaan Muhasabah

Jumat 07 Jun 2019 01:05 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Ribuan masyarakat memadati acara Muhasabah Akhir Tahun, di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Senin (31/12).

Ribuan masyarakat memadati acara Muhasabah Akhir Tahun, di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Senin (31/12).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Muhasabah berarti melakukan perhitungan, yakni terkait diri sendiri terlebih dahulu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Secara kebahasaan, muhasabah berasal dari akar kata hasiba-yahsabu-hisab. Artinya, 'melakukan perhitungan.' Secara istilah keagamaan, muhasabah berarti suatu upaya mengevaluasi diri sendiri atau kolektif, yakni memeriksa adanya kebaikan dan keburukan dalam segala aspek.

Baca Juga

Muhasabah juga dipandang sebagai suatu sarana yang dapat mengantarkan seorang manusia untuk mencapai derajat yang tertinggi sebagai hamba Allah SWT. Ada setidaknya empat poin penting dari bermuhasabah.

Pertama, muhasabah adalah suatu perintah dari Allah SWT. Hal itu sesuai dengan Alquran surah al-Hasyr ayat 18. Artinya, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Dengan bermuhasabah, seorang hamba yang beriman melaksanakan perintah-Nya. Orang itu akan selalu memperhitungkan diri sendiri sebelum menilai orang lain. Apakah dirinya sudah pantas sebagai hamba Allah SWT yang baik? Apakah amalan-amalannya bernilai di sisi Allah Ta'ala? Hidup di dunia ini adalah kesempatan yang tak boleh disia-siakan untuk mengumpulkan bekal bagi perjalanan di akhirat kelak.

Kedua, muhasabah merupakan tolok ukur keimanan. Artinya, keimanan seorang hamba Allah ditentukan oleh sejauh mana dia dapat menerapkan muhasabah dalam kehidupannya.

Ketiga, muhasabah merupakan karakteristik seseorang yang bertakwa. Rasanya, tidak mungkin derajat takwa dapat dicapai oleh orang yang menghindari bermuhasabah. Dengan menghisab diri sendiri, seseorang dapat sadar diri. Pada akhirnya, dia kian termotivasi untuk meningkatkan kualitas amalan-amalan demi mendapatkan ridha-Nya.

Keempat, muhasabah adalah kunci sukses manusia, baik di dunia maupun akhirat. Dengan bermuhasabah, ada dorongan dari diri sendiri untuk melakukan yang lebih baik daripada hari kemarin. Demikian pula, hari esok diproyeksikan lebih baik daripada hari ini. Generasi umat Islam yang gemar bermuhasabah tidak akan berpangku tangan alias bersantai-santai dalam menjalani kehidupan. Sebab, mereka meyakini adanya Hari Perhitungan (Yaumul Hisab), yakni ketika Allah SWT menunjukkan dan membalas setiap amal baik dan buruk, sekecil apa pun itu.

Tentunya, kebiasaan bermuhasabah akan membawa pada optimisme, alih-alih pesimisme. Tujuan akhirnya adalah ridha Ilahi, yang ditandai dengan izin-Nya agar diri masuk ke dalam surga.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA