Selasa 28 May 2019 15:15 WIB

Kehidupan Barzah

Kehidupan barzah adalah pintu gerbang menuju akhirat.

Kematian (ilustrasi)
Foto: Dailymail.co.uk
Kematian (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tiap anak Adam pasti akan menemui ajalnya. Jika meninggal, ia akan hidup sementara di alam barzah. Di alam tersebut, ia akan menunggu hingga hari kiamat datang. Kehidupan barzah adalah pintu gerbang menuju akhirat.

Di alam ini, manusia akan menerima balasan atas amal yang dilakukannya selama di dunia. Bila buruk, akan mendapatkan siksa, demikian sebaliknya. Kebaikan yang dijalani sepanjang hayatnya kelak berbuah manis di barzah.

Keyakinan akan siksa dan nikmat kubur serta keberadaan alam barzah merupakan bagian akidah utama dalam Islam yang harus diimani. Terlebih, banyak terdapat teks, baik Alquran, hadis, maupun riwayat salaf yang menjadi dasar keniscayaan perkara tersebut.

Topik inilah yang hendak dipaparkan al-Baihaqi dalam kitabnya yang berjudul, Itsbat 'Adzab al-Qabr wa Sual al-Malakain. Melalui karya yang naskah manuskripnya diperoleh di Perpustakaan Ahmad III Turki itu, al-Baihaqi hendak membeberkan argumentasi tentang siksa kubur dan hal ihwal yang berkenaan dengannya.

Catatan pertama yang dikemukakan oleh sosok kelahiran Khusraugird dekat Desa Bayhaq, Nisaphur, pada Sya'ban 384 H itu adalah kemudahan bagi orang yang beriman saat menjaw

ab semua pertanyaan yang diajukan oleh dua malaikat, Munkar dan Nakir.

Penegasan itu termaktub dalam ayat, "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki." (QS Ibrahim [14]: 27).

Peneguhan iman yang dimaksud dalam ayat tersebut juga berlaku kelak di akhirat. Faktor apakah yang dapat meneguhkan keimanan seseorang itu? Salah satunya ialah kesaksian atau syahadat.

Menurut hadis riwayat al-Barra' bin 'Azib, Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa seorang mukmin adalah mereka yang ketika berada dalam kuburnya mampu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan berikrar sebagai pengikut Muhammad SAW.

Riwayat lain dari Abdullah bin Mas'ud mengatakan, orang-orang yang beriman--sebagaimana disebutkan ayat di atas--bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat tentang siapakah Tuhan yang ia sembah, agama yang ia peluk, dan siapakah nabi yang ia taati.

Soal-soal itu pun dengan mudah dijawab. Allahlah Tuhannya, Islam agamanya, dan Muhammad nabinya. Lalu, kuburnya dilapangkan hingga ia beristirahat dengan tenang.

Sebaliknya, deretan pertanyaan serupa juga disodorkan kepada orang-orang kafir. Jawaban yang keluar dari lisan mereka hanyalah ketidaktahuan dan kebodohan. Akibatnya, kubur yang ia huni pun akan sempit dan ia akan disiksa.

Terkait fakta ini, Abdullah bin Mas'ud membaca ayat, "Dan, barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS Thaahaa [20]: 124).

Baik pertanyaan, siksa, maupun nikmat kubur, pasti akan terjadi. Ketika jasad telah dikubur, lalu saudara, kerabat, dan para kolega beranjak pergi meninggalkan makamnya, maka orang mukmin ataupun kafir akan mendapat disodori pertanyaan-pertanyaan itu.

Hukum Allah berlaku di sana. Seperti dalil-dalil sebelumnya, umat yang beriman menjawabnya dengan enteng. Sedangkan, kaum kafir tak kunjung bisa mencerna soal-soal itu secara baik. Siksa dan nerakalah balasannya. Hal ini sebagaimana tergambar dalam riwayat Anas bin Malik.

Lantas, bagian manakah dari diri manusia yang akan kembali dibangkitkan saat di alam barzah, apakah jasad tanpa roh, roh semata, atau kedua-duanya. Menurut al-Baihaqi, yang mulai mengambil riwayat pada 399 H pada usia 15 tahun, baik mukmin maupun kafir, kelak roh mereka akan dikembalikan ke jasadnya selama berada di alam barzah. Namun, kehidupan di alam barzah berbeda dari kehidupan dunia. Tidak ada aktivitas makan dan minum di sana.

sumber : Dialog Jumat Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement