Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Bukan Sekadar Menghafal Alquran

Ahad 12 May 2019 16:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Alquran

Alquran

Foto: Republika/Tahta Aidilla
Alquran pun menjadi kitab suci yang terjaga karena dihafal para hafiz.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Alquran merupakan wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada umat-Nya. Dalam Alquran terdapat banyak ilmu dan tuntunan dalam hidup yang bila dilaksanakan akan membawa kebaikan. Alquran pun menjadi kitab suci yang terjaga karena dihafal para hafiz.

Wawancara reporter Republika, Zahrotul Oktaviani, dengan Kepala Laznah Pentashihan Alquran Kemenang Dr Muchlis M Hanafi menjabarkan tren tahfiz di Indonesia dan bagaimana menjaga hafalan itu tetap bermakna. 

Bagaimana minat umat terhadap tahfidz di Indonesia? 

Tren tahfiz Alquran di Indonesia dalam 10 hingga 15 tahun terakhir memang berkembang pesat, selalu meningkat. Kalau dulu tahfiz di dominasi oleh santri dari pesantren tradisional, sekarang ini lembaga pendidikan modern, termasuk sekolah-sekolah yang bukan pesantren juga membuka program tahfiz. Belum lagi, kemunculan rumah tah fiz yang menjamur di mana-mana. Program TV itu juga banyak ber munculan. Ini satu gejala positif untuk kehidupan kegamaan utamanya umat Muslim di Indonesia.

Awal mulanya tahfiz berkembang?

Saya kira ini seiring dengan ma kin meningkatnya kesadaran ber agama umat Muslim di Indonesia. Meningkatnya kesadaran mereka dalam beragama dan menjalankan ajaran-Nya. Kita ingat, misal, feno me na jilbab itu mulai 1980 atau 1990-an, sementara sebelumnya masih belum banyak. Begitu pula dengan tahfiz.

Dengan banyak bermunculan ru mah tahfiz dan sekolah yang memiliki program tahfiz, adakah hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut?

Tentu tidak hanya berhenti se batas bisa menghafal. Sekolah-sekolah yang kini menjadi tertantang bagaimana anak bisa hafal tanpa di pesantren maka tidak cukup hanya bisa menghafal. Tentu, kualitas ha falannya juga harus diperhatikan. Jangan sampai bisa menghafal, tapi murajaahnya belum. Jadi, anak ini hanya pernah menghafal, tapi kuali tas hafalannya tidak mutkin, tidak kuat, tidak berkualitas.

Kalau di pesantren tradisional, santri memang bisa hafal Quran minimal dengan baik dan lancar bu tuh waktu dua sampai tiga tahun. Untuk menghafal saja sebetulnya membutuhkan waktu delapan bulan hingga satu tahun. Tapi, untuk melancarkan hafalan, sehingga bisa mengkhatamkan sehari 30 juz sen dirian, seperti dalam ujiannya, harus diimbangi dengan murajaah, pengulangan.

Sekarang, apakah sekolah dan rumah tahfiz ini seimbang atau tidak antara tahfiz dan murajaahnya. Meng hafal ini sebenarnya tidak sulit. Yang perlu kita ketahui, seperti yang dikatakan Nabi dalam salah satu hadisnya bahwa Alquran ini lebih cepat hilangnya daripada unta yang tidak diikat. Sehingga, harus dijaga dan dipelihara dengan cara murajaah. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA