Senin 06 May 2019 16:46 WIB

Mengenal Parfum di Dunia Islam

Masyarakat Islam sudah menggunakan parfum sejak abad ke-6.

Parfum
Foto: pixabay
Parfum

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Boleh saja parfum-parfum dari dunia Barat menjadi favorit masyarakat modern. Sebut saja seperti Bvlgari, Louis Vuitton, atau Chanel. Namun sebenarnya, peradaban Islam di masa lampaulah yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan parfum di dunia Barat.

Ketika itu, Eropa banyak mencontoh dan mengembangkan cara menarik aroma wangi bahan-bahan parfum melalui proses destilasi uap. Peradaban Islam juga banyak mengenalkan bahan-bahan baru dalam pembuatan parfum.

Baca Juga

Sebagai masyarakat pedagang, kebudayaan Islam yang datang dari Arab dan Persia memiliki akses yang lebih luas terhadap beragam bumbu, bahan-bahan herbal, dan bahan wewangian.

Selain dari hasil perdagangan, masyarakat Islam kala itu juga mampu membudidayakan tanaman yang dibawa dari berbagai tempat yang nantinya digunakan untuk bahan parfum. Misalnya saja, melati yang sebenarnya berasal dari Asia Selatan dan Asia Tenggara, serta beragam jenis jeruk yang berasal dari Asia Timur. Dua tanaman ini masih menjadi bahan parfum yang paling dicari sampai saat ini.

Berdasarkan catatan sejarah, masyarakat Islam sudah menggunakan parfum sejak abad enam. Ketika itu, penggunaannya lebih ditujukan pada keperluan keagamaan. Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa mandi di hari Jumat adalah wajib bagi pria yang sudah masuk masa pubertas. Selain mandi, diperintahkan pula untuk membersihkan gigi dengan siwak, dan menggunakan parfum jika ada. 

Perkembangan parfum dalam peradaban Islam tak lepas dari dua nama besar, yakni Jabir ibnu Hayyan (lahir di Irak pada 722 Masehi), dan al-Kindi (lahir di Irak pada 801 Masehi). Keduanya berhasil mengembangkan industri parfum.

Jabir, misalnya, mengembangkan berbagai teknik untuk menarik ekstrak wewangian dari berbagai bahan, termasuk cara destilasi, evaporasi, dan filtrasi. Berdasarkan hasil kerjanya, aroma wangi dari tumbuh-tumbuhan bisa dibentuk menjadi uap air sehingga parfum kala itu disimpan dalam botol berisi air atau minyak ekstrak wewangian.

Keberhasilan Jabir kemudian lebih dikembangkan lagi oleh al-Kindi. Sampai saat ini, dia dikenal sebagai bapak penemu parfum. Karena berkat penelitian dan eksperimennya, dia berhasil mengombinasikan aroma wangi dari berbagai macam bahan untuk mendapatkan beragam wewangian.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement