Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Kesantunan Seorang Muslimah

Jumat 26 Apr 2019 05:33 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Muslimah

Ilustrasi Muslimah

Foto: EPA/Mast Irham
Kemuliaan ucapan sang Muslimah mampu merobohkan benteng kesombongan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah pepatah Arab mengatakan, barang siapa yang menyerupai perangai baik ayahnya, dia tak tersesat. Sesungguhnya, pepatah itu menggambarkan kemuliaan seorang Muslimah di zaman Nabi Muhammad SAW bernama Safanah binti Hatim ath-Tha’i. Sejarah Islam mencatat Safanah sebagai sosok wanita yang santun dan fasih dalam bertutur kata dan sopan dalam beretika.

Safanah memang mewarisi kebaikan sang ayah, yakni Hatim ath-Tha’i, yang terkenal dengan kemuliaannya. Pada suatu hari, sang ayah berkata kepadanya, Wahai putriku, sesungguhnya dua orang mulia, apabila sama-sama memegang harta, akan cepat habis. Karena itu, biarlah harta itu saya pegang atau kamu yang memegangnya.”

Lalu Safanah menjawab, Bagaimana kalau harta itu kita bagi secara adil dan kita tak melampaui batas (dalam membelanjakannya).” Hatim ath-Tha’i pun membagi harta tersebut dan terbukti tak cepat habis.

Muhammad Ibrahim Salim dalam bukunya bertajuk Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW mengungkapkan, kefasihan Safanah tampak ketika dia menjadi tawanan sebelum masuk Islam. Ibnu Ishaq dalam Al-Maghazi menuturkan, sikap diplomatis Safanah tampak saat meminta dibebaskan dari tawanan kepada Rasulullah SAW.

Wahai Rasulullah, telah meninggal dunia seorang bapak (Hatim ath-Tha’i) dan telah kabur seorang utusan,” tutur Safanah. Lalu, Rasulullah SAW bertanya, Siapakah utusan tersebut?” Dengan lugas Safanah menjawab, Adi bin Hatim.” Mendengar jawaban itu Nabi SAW berkata, Bukankah dia yang kabur dari Allah dan Rasulnya?”

Dialog antara Safanah dan Rasulullah itu terulang sebanyak tiga kali. Hingga tiba-tiba, salah seorang dari balik Rasulullah SAW berkata, Wahai putri kaumku, katakan kepadanya (Rasulullah SAW) apa yang kamu mau.” Safanah pun kemudian kembali menjelaskan diplomasinya.

Wahai Rasulullah, telah meninggal seorang bapak (yaitu bapakku, Hatim) dan telah kabur seorang utusan, yaitu saudaraku Adi bin Hatim. Berikanlah kepadaku apa yang telah Allah berikan kepadamu,” tutur Safanah.

Mendengar penjelasan itu, Nabi SAW pun berkata, Sesungguhnya aku telah membebaskanmu (untuk menyusul saudaramu), tetapi aku belum menemukan orang yang bisa dipercaya untuk mengantarkanmu kembali ke negerimu. Nanti akan tiba saatnya.”

Dalam riwayat selanjutnya, diceritakan bagaimana Safanah diperlakukan dengan baik sebagai seorang tahanan. Safanah berkata, Di sela-sela itu (sebagai tawanan), Rasulullah SAW menjaga saya dengan memberikan pakaian dan makanan sampai tiba waktunya dibebaskan untuk menjemput saudara saya.”

Safanah pun akhirnya dibebaskan dan bertemu dengan Adi bin Hatim di Dumatul Jandal. Adi pun bertanya kepada Safanah tentang sosok Rasulullah SAW. Bagaimana kesanmu terhadap laki-laki itu, wahai saudariku?” ujarnya. Muslimah berakhlak mulia itu pun berkata, Aku berharap engkau dapat menemuinya (Rasulullah SAW.”

Ia meminta kepada saudaranya untuk datang menghadap Nabi SAW sebelum tentara Islam menangkapnya. Datangilah laki-laki itu. Sesungguhnya aku melihat perkataan yang jujur dan santun akan mengalahkan kamu yang menang,” papar Safanah meyakinkan saudaranya.

Lalu, Safanah mengisahkan tentang kemuliaan dan sifat-sifat terpuji yang ada dalam diri Rasulullah SAW.  Dia (Rasulullah SAW) adalah seorang pemimpin yang mencintai fakir-miskin, membebaskan tawanan, menyayangi yang kecil, dan menghormati yang besar,” ungkapnya menjelaskan akhlak dan sifat-sifat mulia Nabi SAW.

Aku tidak pernah menjumpai orang seramah dan semulia dia. Seandainya dia seorang Nabi, mudah-mudahan kamu mendapat keutamaannya. Dan, seandainya dia malaikat, dia masih berada pada kemuliaannya,” ucap Safanah.

Penjelasan Safanah itu bak cahaya yang menerangi kegelapan kalbu Adi bin Hatim. Benarkah apa yang engkau katakan, wahai saudariku?” tanya Adi dengan penuh rasa penasaran. Akhirnya, keduanya berangkat menemui Rasulullah SAW untuk mengikrarkan keislaman mereka.

Dalam sirahnya, Ibnu Hisyam menamai Safanah sebagai Hazimah. Kemuliaan ucapan sang Muslimah mampu merobohkan benteng kesombongan yang bercokol dalam hati saudaranya. Tak heran, bila sejarah Islam menempatkannya dalam jajaran Muslimah yang mulia pada masa kehidupan Nabi SAW.

sumber : Dialog Jumat Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA