Jumat 19 Apr 2019 15:04 WIB

Khutbah Istiqlal Ajak Umat Bersabar Tunggu Hasil Pemilu

Umat diminta mengontrol emosi dalam menyikapi hasil pemilu.

Masjid Istiqlal
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Masjid Istiqlal

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Khutbah Shalat Jumat Masjid Istiqlal di Jakarta Pusat yang disampaikan Khatib Prof DR H Andi Faisal Bhakti mengajak seluruh umat Islam untuk bersabar dalam menyikapi dan menunggu hasil Pemilu 2019. Dia menyampaikan, ketidaksabaran dalam menghadapi segala keadaan yang muncul dalam konteks demokrasi pemilu dapat memicu tindakan-tindakan yang merusak dan melanggar hukum.

"Setelah dua hari yang lalu kita menunaikan hak kita sebagai anak bangsa berupa pemberian suara, maka bersabarlah menunggu hasil," kata Prof Andi Faisal Bhakti dalam khutbahnya di Masjid Istiqlal, Jumat (19/4). Sabar yang dimaksud adalah sabar dalam pengertian aktif dengan tetap melakukan upaya-upaya legal konstitusional dalam mengawal segala proses yang sedang berjalan.

Baca Juga

"Kita sudah punya beberapa lembaga negara yang Insya Allah akan amanah menjalankan tugas mereka," kata khatib.

Dia juga mengajak seluruh umat Islam untuk mengontrol emosi dalam menyikapi hasil pemilu. "Mengendalikan emosi adalah sifat terpuji untuk dimiliki oleh siapapun. Mengendalikan emosi berasal dari ketenangan jiwa dan kebijaksanaan pikiran, orang yang hatinya tenang dan pikirannya bijak tidak akan mudah emosi apalagi sampai marah-marah. Ketenangan jiwa dan kebijaksanaan pikiran mampu menyelesaikan suatu masalah tanpa memunculkan masalah lain," jelas khatib Prof Andi.

Dia mencontohkan Rasulullah SAW bila marah hanya terlihat wajahnya yang memerah. Di dalam Islam, sebagian ulama menganjurkan ajakan untuk berbuat arif dan bijaksana harus dilakukan dengan cara-cara yang baik adil.

Prof Andi memahami dalam konteks pemilu tentu terdapat berbagai gejolak perbedaan persepsi dan spekulasi yang menurutnya adalah hal yang manusiawi. Menurut dia dalam menyikapinya diperlukan sikap menahan diri tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis, merusak dan melanggar hukum.

"Indonesia adalah negara hukum, jika terdapat sesuatu yang tidak sejalan dengan ketentuan yang berlaku maka pihak yang berwenang untuk memutuskannya. Demikianlah menahan emosi sangat penting dalam konteks kita hari ini," kata dia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement