Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Kesultanan Kutai dan Dinamika Ekonomi Abad 19

Kamis 28 Mar 2019 17:36 WIB

Red: Hasanul Rizqa

(ilustrasi) Masjid Jami Haji Amir Hasanuddin di Tenggarong, Kutai Kertanegara, Kaltim

(ilustrasi) Masjid Jami Haji Amir Hasanuddin di Tenggarong, Kutai Kertanegara, Kaltim

Foto: tangkapan layar wikipedia
Kutai pada masa ini mulai merasakan dampak ekonomi ekstraktif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak abad ke-19, kekayaan bahan bakar fosil di Pulau Kalimantan merupakan daya tarik tersendiri. Hal ini tidak terkecuali bagi Kerajaan Kutai Kertanegara. Kedatangan Belanda, antara lain, diiringi faktor mendapatkan sumber-sumber baru batu bara untuk mendukung industri.

Baca Juga

Pada 1888, dibukalah untuk pertama kalinya tambang batu bara di Batu Panggal, Kesultanan Kutai Kertanegara. Kompleks pertambangan itu, yang sekarang menjadi bagian dari Kota Samarinda, dirancang seorang insinyur Belanda, JH Menten.

Sejak saat itu, Kutai dan Kalimantan Timur pada umumnya terkenal sebagai daerah tambang yang produktif. Sultan-sultan Kutai menerima royalti dari kegiatan pertambangan ini. Bagaimanapun, sejak 1908 Belanda baru dapat benar-benar menguasai hulu Sungai Mataram untuk kemudahan akses pertambangan ini. Pihak Kutai mendapatkan ganti sebesar 12.990 gulden per tahun dari Belanda.

Keberadaan pertambangan lantas menggairahkan kegiatan ekonomi di Kutai Kertanegara yang memasuki abad ke-20. Hal ini didukung dengan pendirian korporasi Borneo-Sumatra Trade Co. Pada 1924, misalnya, kesultanan ini memiliki dana bagi hasil sebesar 3,28 gulden. Bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain, penghasilan tersebut merupakan pencapaian yang luar biasa.

Kesultanan Kutai Kertanegara pun mulai mendirikan bangunan-bangunan baru untuk simbol kejayaan. Menjelang abad ke-20, kerajaan ini dipimpin Sultan Alimuddin. Dia berinisiatif untuk mendirikan istana baru yang letaknya tidak begitu jauh dari istana lama yang menjadi pusat kekuasaan almarhum ayahnya pada masa silam. Istana baru ini terbuat dari bahan kayu ulin dan terdiri atas dua tingkat. Posisinya persis menghadap Sungai Mahakam sehingga menjadikannya cukup strategis.
Istana ini tetap dipakai sultan berikutnya, Parikesit, yang naik takhta pada 1920.

Namun, sejak 1936 istana Kesultanan Kutai Kertanegara diperkuat dengan bahan beton yang lebih kokoh. Dalam masa restorasi tersebut, keluarga Sultan Parikesit dan elite pindah ke istana lama yang pernah dipakai Sultan Sulaiman.

Adapun proyek renovasi ini dikerjakan perusahaan Belanda, Hollandsche Beton Maatschappij (HBM) Batavia. Arsiteknya bernama Estourgie. Pada 1938, renovasi ini selesai dan keluarga Sultan Parikesit secara resmi mulai menempatinya. Pembukaan istana baru tersebut diiringi pesta besar.

 

Masjid Jamik

Peninggalan Sultan Sulaiman tidak hanya berupa istana lama. Pada 1874, dia membangun sebuah masjid besar sebagai sentra peribadatan di Kutai Kertanegara. Untuk menghargai legasi kakeknya itu, Sultan Parikesit pun merenovasi masjid ini sehingga kapasitasnya jauh lebih besar. Begitu selesai, masjid ini dinamakan dengan Masjid Jami Haji Amir Hasanuddin.

Itu mengambil dari nama Amir Hasanuddin, seorang menteri Kutai Kertanegara yang berjasa dalam mengupayakan perbaikan bangunan ini. Menteri tersebut bernama gelar Pangeran Sosronegoro.

Masjid Jami Amir Hasanuddin menampilkan corak arsitektur yang khas Kalimantan Timur. Tidak ada paku besi dalam keseluruhan bangunan ini. Untuk alat tautan digunakan kayu. Bagian atap masjid ini terdiri atas tiga tingkatan. Puncaknya merupakan limas bersegi lima. Di setiap tingkatan dari atap itu terdapat saluran udara yang besarnya variatif. Selain itu, ada 16 tiang besar yang terbuat dari kayu ulin.

Mulanya, ke-16 tiang tersebut dipakai untuk pemandian (menduduskan) untuk seorang putra mahkota yang belakangan meninggal dunia sebelum sempat menjalankan prosesi ritual tersebut. Akhirnya, tiang-tiang ini menjadi bagian dari pembangunan Masjid Jami Amir Hasanuddin.

Masjid ini memiliki nilai historis setidaknya bagi masyarakat Tenggarong dan Kutai Kertanegara. Dalam masa pembangunannya, rakyat begitu antusias untuk ikut membantu. Sampai sekarang, Masjid Jami Amir Hasanuddin merupakan salah satu masjid tua di Indonesia.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA