Kamis 28 Mar 2019 13:49 WIB

ACT Berbagi Ilmu Kebencanaan di Belanda

Seminar di Belanda membahas peran ACT dalam manajemen kebencanaan.

Seminar Kebencanaan di Belanda. ACT hadir sebagai pembicara di seminar tentang kebencanaan yang digelar Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda.
Foto: ACT
Seminar Kebencanaan di Belanda. ACT hadir sebagai pembicara di seminar tentang kebencanaan yang digelar Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Perhimpunan Pelajar Indonesia di Utrecht (PPI Utrecht) bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda (PPI Belanda) mengadakan seminar internasional dengan tema "Angkringan Utrecht (ANGKUT) X Lingkar Inspirasi: Membangun Manajemen Bencana Indonesia Menuju Ketahanan". Senior Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT), Syuhelmaidi Syukur menjadi pembicara dalam seminar yang digelar pada Sabtu (23/3) di Universitas Utrecht, Kota Utrecht, Belanda, tersebut.

Indonesia sebagai negara kepulauan dan terletak di persimpangan tiga lempeng besar yakni Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik menjadikannya termasuk negara yang  rawan bencana. Hal ini pun menjadi perhatian khalayak internasional.

Baca Juga

Syuhelmaidi Syukur mengatakan bencana sendiri masuk dalam urusan kemanusiaan, maka keterlibatan setiap aspek terkait aksi kemanusiaan sangat penting. Hal ini karena tanggap darurat yang dikelola dengan baik dapat memainkan peran penting untuk ketahanan negara.

“ACT sebagai lembaga kemanusiaan yang juga bergerak di bidang kebencanaan pun hadir untuk mendukung upaya itu, mulai dari penanggulangan hingga penanganan bencana. ACT pun terus berupaya menjadi pelopor dalam menyelamatkan korban bencana atau dalam tindakan darurat apapun,” papar Syuhel seperti dalam siaran persnya.

 

Dalam seminar ini, Syuhel membahas peran ACT dalam manajemen kebencanaan, baik pra-bencana maupun tanggap darurat dan pemulihan. Ia menambahkan, seminar ditujukan sebagai pembuka peluang para pelajar Indonesia di Belanda untuk bisa berkontribusi langsung dengan melakukan penelitian dan membangun kolaborasi bersama pemerintah Indonesia dalam upaya pengurangan risiko dan manajemen bencana.

“Sebab peran aktif semua pihak, termasuk mereka yang sedang belajar di Belanda, adalah solusi terbaik dalam mengelola sistem penanggulangan maupun penanganan bencana yang terjadi di Indonesia. Perhatian terhadap bencana yang terjadi di Indonesia juga datang dari salah seorang Profesor of Humanitarian Aid and Reconstruction at the International Studies of Universitas Rotterdam bernama Dorothe Hilhorst. Kala itu, sang profesor juga hadir sebagai pembicara untuk menyampaikan tentang gempa bumi yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah,” ungkap Syuhel.

Seminar yang berlangsung selama enam jam ini, kemudian ditutup dengan bantuan dana dari para pelajar Indonesia untuk para korban banjir bandang yang terjadi di Sentani, Jayapura. “Alhamdulillah, para pelajar Indonesia di Belanda mempercayai ACT sebagai lembaga kemanusiaan dalam menyampaikan amanah mereka untuk para korban bencana banjir bandang di Sentani, Jayapura,” tutup Syuhel.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement