Tuesday, 25 Muharram 1441 / 24 September 2019

Tuesday, 25 Muharram 1441 / 24 September 2019

Menyiapkan Diri untuk Tidur

Rabu 20 Mar 2019 04:04 WIB

Red: Agung Sasongko

Pria tertidur/ilustrasi

Pria tertidur/ilustrasi

Foto: pixabay
Seberapa nyenyak tidur Anda malam tadi?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seberapa nyenyak tidur Anda malam tadi? Apakah Anda tertidur pada awal waktu hingga ayam berkokok? Ataukah Anda terpaksa harus mengubah waktu tidur Anda karena bekerja shift malam sehingga harus beristirahat pada siang? Kemungkinan lainnya, Anda adalah orang yang mengalami kesulitan tidur. Banyak masalah di kantor dan keluarga membuat tidur nyenyak menjadi sesuatu yang sangat mahal bagi Anda.

Para ilmuwan percaya bahwa tidur yang cukup berpengaruh terhadap mental, konsentrasi, memori, hingga mood seseorang. Tidur yang tidak cukup merusak fungsi metabolisme tubuh manusia. Dalam pemahaman yang lebih singkat, tidur dapat membangun kualitas hidup manusia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidur berarti dalam keadaan berhenti badan dan kesadarannya, biasanya dengan memejamkan mata. Di dalam bahasa medis, tidur mendapatkan penjelasan lebih kompleks. Tidur adalah masa istirahat untuk tubuh dan jiwa. Selama tidur, kesadaran dan kemauan mengalami penundaan, baik sebagian maupun keseluruhan. Tidur juga dijelaskan sebagai sikap tubuh yang diam, tetapi mudah merespons jika ada stimulus dari luar.

Fenomena tidur telah dijelaskan lewat banyak ayat dalam Alquran. Di antaranya, yakni QS AzZumar ayat 42. Dalam ayat tersebut, Allah SWT berfirman, "Allah yang mengangkat roh seseorang ketika dia mati dan ketika tidur. Maka di tanganNya, roh orang yang ditakdirkan mati dan dikembalikan roh orang yang tidur sampai ajal tertentu. Sesungguhnya itu merupakan ayat bagi orang yang mau berpikir."

Saat masih menjabat sebagai Ketua Departemen Electrical and Electronic di British University, Dr Arthur J Alison pernah melakukan penelitian lewat alatalat elektronik tentang fenomena tidur dan mati. Hasil riset selama enam tahun ini menjelaskan, memang ada sesuatu yang keluar dari tubuh manusia ketika tidur dan masuk kembali ketika terbangun. Namun, untuk orang mati, sesuatu itu tidak kembali. 'Sesuatu' yang terdeteksi oleh alat elektronik Dokter Alison boleh jadi merupakan roh yang dijelaskan Alquran.

Karena itu, tidur dapat direnungkan sebagai simulasi mati. Baik dalam tidur maupun mati, roh samasama pergi dari tubuh manusia. Namun, perbedaannya ada di pengembalian. Ketika roh  tidak dikembalikan maka dipastikan kita akan mati. Jika suratan itu terjadi, roh yang berada di genggaman Allah SWT akan masuk ke alam barzakh dan tidak kembali ke alam dunia.

Menjadi wajar saat Rasulullah SAW memberi contoh untuk membaca doa, yang seolah menyiapkan mati saat menjelang tidur. "Dengan namaMu Ya Allah aku hidup dan (dengan namaMu) aku mati." Lantas, saat terbangun, kita diajarkan untuk membaca doa yang bermakna rasa syukur setelah dapat hidup kembali. "Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami hidup setelah mati dan hanya kepadaNya kami dikembalikan."

Rasulullah pun mencontohkan agar kita menyiapkan diri untuk tidur, seperti kita hendak menghadap Sang Pencipta. Mengambil wudhu sebelum tidur adalah salah satu sunah yang diajarkan Nabi kepada kita. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa tidur di malam hari dalam keadaan suci (berwudhu') maka malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap, 'Ya Allah ampunilah hambamu si fulan, karena ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci'." (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar ra).

Tak hanya itu, Rasulullah kerap juga mendoakan orang yang mati saat tidur dalam keadaan berwudhu. Hal ini juga ditulis dalam kitab Tanqih alQand alHatsis karangan Syekh Muhamad bin Umar anNawawi alMantany. Dari Umar bin Harits bahwa Nabi bersabda, "Barang siapa tidur dalam keadaan berwudhu, apabila mati di saat tidur, matinya dalam keadaan syahid di sisi Allah."

Posisi tidur miring ke kanan juga dicontohkan Rasulullah SAW yang terbukti bermanfaat bagi kesehatan. "Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu." (HR AlBukhari No 247 dan Muslim No 2710).  Selain untuk kesehatan, jika kita mau renungkan lebih lanjut, posisi tidur ini juga berkaitan dengan kematian. Posisi ini sama saat jenazah seorang Muslim dikuburkan. Ingatan akan mati pun selayaknya direnungkan saat tidur berdasarkan sunah Rasulullah SAW.

Di luar itu, tidur juga menjadi ajang bagi kita untuk mempersiapkan vitalitas bukan hanya untuk beraktivitas, melainkan juga beribadah.  Umat  Islam punya waktu lima kali sehari untuk melaksanakan shalat. Shalat terakhir pada malam hari, yakni shalat Isya sedangkan shalat paling awal sebelum memulai hari, yakni shalat Subuh.

Untuk menjaga agar shalat Subuh tepat waktunya, tidur harus dilakukan dengan cukup, sesuai hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari. Namun, Rasulullah mengajarkan kita untuk shalat tahajud pada sepertiga malam. Karena itu, untuk menjaga vitalitas saat beribadah malam, Rasulullah pun meminta para sahabat untuk melakukan Qailulah, yakni tidur sebentar pada pertengahan hari.

Kita mesti bersyukur Allah SWT memberi nikmat berupa tidur. Pernahkah kita merenung bahwa tidur adalah sebagian dari tandatanda kebesaran Allah SWT? Pada QS Ar Rum ayat 23, Allah SWT berfirman, "Dan di antara kebesaranNya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sungguh pada yang demikian itu benarbenar terdapat tandatanda bagi kaum yang mendengarkan." Wallahualam.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA