Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Potensi Wisata Religi di Kotabaru Banjarmasin Terabaikan

Senin 11 Mar 2019 20:50 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Jembatan Pulau Kotabaru, Kalimantan Selatan

Jembatan Pulau Kotabaru, Kalimantan Selatan

Foto: Antara
Infrastruktur jalan menuju objek wisata religi tersebut kurang memadai

REPUBLIKA.CO.ID, BANJARMASIN—  Wisata religi merupakan salah satu daya tarik pariwisata di Indonesia. Kabupaten Kotabaru, juga menyimpan objek wisata religi yang cukup potensial. 

Baca Juga

Pernyataan ini disampaikan anggota DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel), Surinto.

"Namun objek wisata religi/rohani itu terkesan masih kurang promosi dan perhatian pemerintah daerah," tutur wakil rakyat asal daerah pemilihan Kalsel VI/Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) tersebut di Banjarmasin, Senin (11/3).  

Sebagai contoh infrastruktur jalan menuju objek wisata religi tersebut kurang memadai atau mendukung. 

Ia menunjuk contoh makam Syekh KH Muhammad Dahlan bin Ahmad Abbas atau yang akrab disapa Guru Gantung juga ramai peziarah, bukan saja penduduk setempat, tetapi mereka dari luar daerah, bahkan ada pula asal provinsi lain.

Anggota Komisi III Bidang Pembangunan dan Infrastruktur DPRD Kalsel bergelar sarjana teknik dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu berharap, agar pemerintah provinsi (Pemprov) setempat membantu peningkatan jalan arah ke makam Guru Gantung tersebut.

"Jalan makam Guru Gantung (sekitar 350 kilometer timur Banjarmasin) tersebut tidak sampai satu kilometer dari jalan raya atau jalan utama/trans Kalimantan lintas timur Kalsel menuju Kalimantan Timur (Kaltim),” tuturnya.

Menurut dia, untuk pembangunan/peningkatan jalan ke objek wisata religi/rohani tersebut belum memungkinkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kotabaru, karena keadaannya yang masih terbatas.

"Saya kira tidak salah atau boleh-boleh saja Pemprov Kalsel turun tangan dalam peningkatan infrastruktur penunjang objek wisata di provisinya, guna lebih menarik pengunjung atau wisatawan," kata dia. 

Pada masa Hindia Belanda, Cantung merupakan kawasan perkebunan "sahang" (lada/marica), dan menjadi bagian dari konsisi perkebunan besar kelapa sawit milik perusahaan swasta.

Selain makam Guru Cantung, di "Bumi Sa-ijaan" Kotabaru atau kabupaten paling timur Kalsel itu juga terdapat masjid yang masyarakat anggap mempunyai  karamah (keramat) yaitu Masjid Jami' Tamiang Desa Pantai (sekitar 300 kilometer timur Banjarmasin).

Masjid Jami'Tamiang itu dalam bentuk panggung terbuat dari kayu ulin (kayu besi), pada mimbarnya terukir tulisan "Safar 1323 H" yang berarti usia tempat ibadah kaum Muslim tersebut kini sudah mencapai 117 tahun.

Rancang bangun mimbar Masjid Jami' Tamiang sama dengan yang ada di Masjid Su'ada Aluan Mati/Aluan Sumur (sekitar 171 kilometer utara Banjarmasin) Kecamatan Batu Benawa Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalsel.

Selain itu, punya kesamaan pula dengan rancang bangun atau desain mimbar pada Masjid Al Abrar Titipapan Medan, Sumatra Utara (Sumut).

"Tidak mengherankan, kalau desain ketiga mimbar Masjid Su'ada Aluan Mati/Aluan Sumur, Masjid Jami' Tamiang dan Masjid Al Abrar Titipapan itu ada kesamaan, karena perancangnya orang yang sama pula," ujar salah satu keturunan perancang tersebut, Syamsuddin Hasan.

Perancang atau desainer mimbar ketiga mimbar tersebut almarhum H Muhammad Basyiri, juga seorang ulama yang meninggal dunia pada 1939 dan bermakam di pekuburan Muslim belakang Masjid Al Abrar Titipapan Medan.

   

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA