Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Agar Kita tak Berbohong

Rabu 06 Mar 2019 14:16 WIB

Red: Agung Sasongko

Bohong/ilustrasi

Bohong/ilustrasi

Foto: kiwicommons.com
Saat ini mudah sekali orang berkata bohong.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdul Muid Badrun

JAKARTA --Akhir-akhir ini kita dipertontonkan satu fakta betapa orang mudah sekali berkata bohong, berkata tidak sesuai yang sebenarnya. Padahal, jelas anjuran agama mengatakan, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata jujur atau (jika tidak bisa), diamlah." (HR Bukhari dan Muslim).

Anjuran dan khutbah kebaikan dan berkata jujur marak kita dengar, semarak industri kebohongan yang ditampilkan. Fenomena apa ini? Ini adalah akibat nihilnya kepercayaan dan ketakutan pada Allah. Mengapa bisa demikian? Bayangkan, jika orang percaya akan adanya Allah, ia akan takut berbuat dosa. Ia akan takut berkata bohong. Ia akan sekuat tenaga menghindari dusta. Walau seringan apa pun dosa itu, ia akan tinggalkan. Ia akan berhati-hati dan menjauhi perbuatan itu, bukan sebaliknya.

Padahal, kita tahu menjaga lisan itu ibadah paling ringan tetapi berat dari sisi timbangan. Artinya, semua kebaikan sangat bergantung pada ucapan yang keluar dari mulut kita. Jika mulut kita mampu menjaga dari kebohongan, timbangan kebaikan kita akan berat di akhirat nanti. Demikian pula sebaliknya. Maka, muncul pepatah Arab mengatakan, "Selamatnya manusia itu karena mampu menjaga lisannya." Ini benar adanya dalam konteks kekinian. "Mulutmu harimaumu," artinya, jika kau tak mampu jaga mulutmu, mulut itu akan membunuhmu. Pelan dan pasti!

Lalu, bagaimana caranya agar kita tak terbiasa berbohong? Tip sederhana ini bisa kita coba terapkan, yaitu paksa-paksa-paksa-bisa-biasa (Formula 3P2B). Cara ini bisa kita jadikan langkahnya. Paksa mulut kita agar jangan lagi berbohong, apa pun alasannya! Paksa mulut kita ketika berbicara hanya yang benar dan baik-baik. Jika tak mampu, diam saja. Paksa mulut kita ketika terdesak oleh keadaan tetap mampu berkata jujur. Dengan demikian, apa pun kondisinya, bagaimanapun keadaannya, berkata jujur itu harga mati buat kita titik, seperti sering dikampanyekan #JujurItuHebat.

Jika mulut kita dipaksa terus-menerus berkata jujur, mulut akan bisa menghindari perbuatan dusta. Akhirnya, ia akan terbiasa berkata jujur. Inilah yang dicontohkan Rasullullah Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul yang punya sifat jujur (sidik), terbiasa berkata jujur. Dasar kejujuran ini pulalah yang mengantarkan Islam jaya pada masa itu. Lalu, bagaimana dengan kondisi sekarang? Ketika bohong dan dusta itu sengaja diproduksi menjadi sebuah industri? Bagi saya, kebenaran itu akan menemukan pintunya sendiri, kapan pun dan di manapun. Kemenangan dengan cara berbohong dan dusta hanya sementara dan akan mengantarkan pelakunya masuk penjara.

Apakah itu yang akan kita wariskan untuk anak cucu kita? Tentu tidak! Maka, hindari dan akhiri berbuat bohong dan dusta karena kita malu pada negeri ini jika tiap hari yang dipertontonkan hanya pertarungan kebohongan demi kebohongan. Ataukah memang kita sudah tak punya rasa malu sehingga menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan? Buka mata, buka hati, buka telingga kita agar mulai berani berkata jujur pada diri kita sendiri. Allah pun sudah memperingatkan pada kita semua sebagai hamba-Nya (lihat QS al-Maidah ayat 8 dan an-Nahl ayat 105).

Dari sinilah perang melawan industri kebohongan menjadi jihad milenial alias jihad "zaman now". Jangan sampai negeri tercinta ini tercabik-cabik dan menangis karena ulah kita yang terus-menerus terbiasa berkata bohong. Anak cucu kitalah nanti yang menjadi korban. Setop berkata bohong! Hentikan berdusta dan menebar hoaks! Ganti dengan mulai berani berkata jujur. Risiko apa pun akan dihadapi karena inilah jihad "zaman now". Jangan jadikan anak cucu kita tumbal atas kebohongan demi kebohongan yang tiap hari kita produksi. Naudzubillah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA