Jumat 28 Dec 2018 20:32 WIB

Ribuan Warga Purwakarta Shalat Ghaib untuk Korban Tsunami

Shalat ghaib sebagai bentuk dukungan dan keprihatinan untuk korban tsunami

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Nashih Nashrullah
Kondisi Kampung Teluk Batako, Labuan,Banten yang terdampak tsunami Selat Sunda, Jumat (28/12).
Foto: Republika/Muhammad Ikhwanuddin
Kondisi Kampung Teluk Batako, Labuan,Banten yang terdampak tsunami Selat Sunda, Jumat (28/12).

REPUBLIKA.CO.ID, PURWAKARTA -- Ribuan warga menggelar shalat ghaib untuk korban tsunami Selat Sunda, Banten dan Lampung. Shalat ghaib tersebut, dilaksanakan di Tajug Gede Cilodong, Kabupaten Purwakarta usai shalat Jumat (28/12). 

Shalat ghaib tersebut, tak hanya diikuti warga Purwakarta. Melainkan, ada juga warga dari Kabupaten Karawang dan Subang, serta Bekasi. 

Dalam kesempatan itu, shalat Jumat tersebut dipimpin Kiai Suhaemi, yang merupakan tokoh agama yang sangat dihormati di Kecamatan Plered. Sedangkan, Kiai Ni’amillah Aqil Siradj bertindak sebagai khatib dengan menggunakan bahasa Sunda Cirebonan. 

Khatib yang juga merupakan adik dari Ketua Umum PBNU Kiai Said Aqil Siradj itu, mengulas tentang bencana. 

Menurut Kiai Niamillah, fenomena alam harus dijadikan momentum untuk melakukan introspeksi diri. Karena itu, tidak pantas jika ada pihak yang menggunakannya sebagai alat penghakiman kebenaran pilihan politik. 

"Mengaitkan bencana alam dengan politik hanya akan menambah derita dan sakit hati para korban," ujarnya, Jumat (28/12).  

Karena itu, dirinya mengimbau agar itu semua segera dihentikan. Lebih baik, seluruh warga Indonesia mendoakan semua korban berada dalam kenikmatan dari Allah SWT.   

Pengasuh Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat tersebut,  juga menyampaikan duka mendalam untuk para korban. Dia mengajak semua jemaah untuk melaksanakan shalat ghaib setelah shalat Jum’at dilangsungkan.  

"Usai rangkaian shalat Jum’at ini dijalankan, mari kita melakukan shalat ghaib berjamaah," ujarnya.  

Ketua DKM Tajug Gede Cilodong, Dedi Mulyadi, mewakili para jamaah turut menyampaikan bela sungkawa. Kejadian yang menimpa para korban tsunami Banten dan Lampung merupakan duka seluruh warga Indonesia. Karena itu, semua pihak harus turun tangan dan bahu-membahu membantu para korban.  

"Kita berduka, Indonesia berduka. Sebagai saudara sebangsa dan setanah air kita harus membantu mereka. Doa dan bantuan lebih mereka butuhkan dibandingkan mengaitkan peristiwa ini dengan politik," ujarnya. 

Dedi pun memberikan dukungan moral untuk para korban agar diberikan kesabaran dan ketabahan dalam memulihkan situasi. Dengan adanya bencana alam ini, jadikan sebagai bahan untuk lebih bertafakur, tabayyun, dan tasyakur.  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement