Selasa 11 Dec 2018 05:00 WIB

Menjadi Kaya dan Memperbudak Dunia

10 sahabat nabi yang dijamin masuk surga, sembilan di antaranya pengusaha kaya.

Harta atau uang (ilustrasi).
Foto: Blogspot.com
Harta atau uang (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tersebutlah kisah seorang ulama dan hakim besar pada zamannya, Ibnu Hajar al-Asqalani, yang hidup dalam kemewahan. Pulang pergi dari kantor ke rumahnya saja selalu dikawal arak-arakan mewah dengan kuda-kuda pengiring. Hingga suatu waktu, seorang Yahudi Mesir nan miskin nekat mencegat kawalan tersebut.

"Izinkan saya menanyakan sesuatu padamu, wahai Ibnu Hajar!" teriak si Yahudi tersebut. Ibnu Hajar pun berhenti dan mempersilakannya.

"Bukankah dalam hadis Nabimu dikatakan, ‘Dunia itu ibarat penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir?’ (HR Muslim). Lantas, bagaimana dengan kondisi kita ini? Engkau seorang mukmin dan hakim besar di Mesir ini, ternyata engkau ada dalam sebuah arak-arakan mewah. Sedangkan, saya yang 'kafir' ini justru berada dalam kesengsaraan," tutur si Yahudi.

Ibnu Hajar memahami pertanyaan si Yahudi miskin tersebut. Secara penampilan saja, kondisi mereka berdua sudah jauh berbeda. Ibnu Hajar dengan gemerlap pakaian mewahnya, sementara Yahudi si tukang minyak tersebut berpakaian lusuh lagi kotor.

"Begini. Saya dengan kemewahan dunia ini jika dibandingkan dengan kenikmatan surga di akhirat kelak maka saya ibarat sedang terpenjara. Sedangkan, engkau yang menderita di dunia ini jika dibandingkan dengan azab neraka yang menunggumu di akhirat maka engkau saat ini ibarat seperti di surga," kata dia.

Inilah paradigma yang ingin diubah oleh Ibnu Hajar. Menjadi seorang mukmin tidak identik dengan kemelaratan hidup. Tidak benar jika ajaran Islam mengajarkan umatnya untuk memilih hidup miskin.

 

sumber : Islam Digest Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement