Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Kisah Muslimah Australia Jadi Korban Islamofobia

Senin 10 Dec 2018 20:02 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Beberapa Muslimah yang tinggal di Australia.

Beberapa Muslimah yang tinggal di Australia.

Foto: SBS.com
Pakar: Perempuan berada di posisi rentan ketika berada di ruang publik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --   Ketua Pekerja Sosial di Universitas Western Sydney Linda Briskman dan Margaret Whitlam mengatakan, perempuan berada di posisi rentan ketika berada di ruang publik. Ketika mereka menjadi sasaran, anak-anak juga terkadang ikut terdampak serangan tersebut.

Selain itu liputan media juga semakin memperparah tingkat Islamfobia di masyarakat. Menurut penelitian, ada peningkatan tiga kali lipat setelah rencana jangka pendek Pemerintah Federal 2014 melarang perempuan mengenakan cadar.

Seorang ibu dua anak asal Sydney, Gada Omar, diancam oleh sekelompok pria saat duduk bersama dua teman di sebuah pusat perbelanjaan di pinggiran kota Sydney, Rouse Hill. Saat inisden itu terjadi ada banyak orang di sekitarnya.

"Dan tiba-tiba kita mendengar seorang pria berkata, 'Apakah Anda sudah melihat be rapa banyak Muslim yang sedang marah di sana?' Kami melihat ke atas dan ada lima orang berdiri di depan kami, mereka mungkin berusia awal 20-an.

Mereka berkata kepada kami, 'Apakah Anda tahu seperti apa bentuk baru," jelas Gada menceritakan penga laman pahitnya sebagaimana diberitakan abc.net. Ketika itu tak ada orang yang memedulikannya. Rasanya sungguh menyedih kan. Dia sekarang menghindari Rouse Hill jika hari mulai gelap.

Insiden itu juga berdampak pada putranya yang berusia 13 tahun. "Dia tidak suka pergi setelah gelap ke daerah-daerah tertentu, dia panik," kata Gada. Menurut penelitian, hanya 31,8 persen dari serangan yang dilaporkan ke polisi. Sedangkan yang diproses kemudian hanya sepertiganya.

Muslimah penyandang disabilitas, Ayah Wehbe, merasakan pengalaman yang kurang mengenakkan. Wanita berdarah Lebanon ini bekerja sebagai peneliti dan relawan dalam berbagai acara komunitas. Dia berjuang untuk meningkatkan kesadaran tentang kehilangan pendengaran di komunitas Muslim serta keragaman dalam diskursus disabilitas pendengaran.

Dia merasa masih kurangnya dukungan, pemahaman dan kesadaran tentang ke hilang an pendengaran, dan disabilitas lainnya, dalam komunitas Muslim Lebanon. Saat ini dia bekerja di Advance Diversity Services pada sebuah proyek penelitian tentang Skema Asuransi Disabilitas Nasional (NDIS) dan aksesibilitas bagi orang-orang dari latar belakang etnis yang berbeda.

Dia menerima perlakuan tak menge nakkan ketika bepergian ke negara bagian lain di Australia pada Juli lalu. Ketika itu Ayah sedang menuju Hobart, Darwin, dan Melbourne. Setiba di Darwin, dia ditanya tentang usianya sebanyak tiga kali oleh tiga orang yang berbeda. Semuanya sopir taksi.

Ada yang mengajaknya menikah, padahal wanita ini sudah enggan untuk berumah tangga, karena itu pilihan hidup. Ada pula yang mencoba mendalami kehidupan pribadinya.

Terlepas dari berbagai pengalaman pahit itu, Ayah meyakini kehidupan di negeri kanguru ini semakin baik. Perlahan tapi pasti, keragaman diterima masyarakat luas. Pendidikan semakin membuka pandangan dan hati mereka tentang kebersamaan dan persatuan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA