Rabu 21 Nov 2018 05:45 WIB

Maulid Nabi Sebagai Ekspresi Syukur dan Cinta

Cinta akan memberikan energi positif untuk mengikuti jejak orang yang dicintai.

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Dwi Murdaningsih
Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin (kiri)
Foto: Republika TV/Wahyu Suryana
Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin (kiri)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Umat Islam sedunia baru saja memperingati kelahiran atau maulid Nabi Muhammad Saw. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, peringatan Maulid Nabi menjadi ikhtiar umat untuk mengekspresikan rasa syukur, gembira dan cinta, karena jasa besar Sang Nabi tercinta, untuk manusia dan kemanusiaan.

Menurut dia,  rasa cinta akan memberikan energi positif untuk mengikuti jejak langkah orang yang dicintai. Cinta itu pula, kata Menag yang akan meleburkan dalam kebersamaan.

"Salah satu rahasia kesuksesan dakwah Nabi adalah kepemimpinan yang berlandaskan cinta kepada sesama, penuh kasih sayang dan lemah lembut, dalam bingkai semangat persaudaraan," ujar Lukman melalui keterangan yang diterima Republika.co.id, Selasa (20/11).

Sifat lembut, kata Menag,  bukan penanda lemah. Justru di situ tersimpan kekuatan. Sifat lemah lembut melahirkan simpati, sehingga orang akan mendekat dan merapat kepadanya.

 

"Sifat kasih sayang dan lemah lembut Nabi menjadi magnet bagi banyak orang. Bahkan mengubah lawan menjadi kawan," ujarnya.

Menag menambahkan, indikator kuatnya keimanan seseorang, salah satunya terlihat dari rasa kepedulian sosial. Keimanan sejati, kata Menag, harus dibuktikan dengan cinta kepada sesama dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

"Beragama tanpa rasa dan nilai kemanusiaan akan membuatnya hampa," kata dia.

Melalui semangat Maulid Nabi, dia mengajak umat untuk membangkitkan kembali rasa kemanusiaan. Untuk itu, hati dan jiwa perlu dibangkitkan dari keterpurukan dan kegelapan akibat ‘keakuan’, keangkuhan, serta cinta dunia, baik dalam rupa popularitas, kedudukan, gila hormat, sifat rakus dan lainnya.

"Mari kita beragama dengan cinta dan kasih kepada sesama. Beragama tanpa cinta akan hampa tak bermakna. Sebaliknya, bercinta tanpa agama tak akan kekal bahagia," kata Menag.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement