Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Memahami Asal-Usul Cinta

Senin 15 Okt 2018 05:30 WIB

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Agung Sasongko

 Cinta,Mawar, Jodoh (ilustrasi)

Cinta,Mawar, Jodoh (ilustrasi)

Foto: Republika/Prayogi
cinta adalah penyebab keberadaan yang paling mendasar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Ketika membicarakan cinta, seseorang akan membayangkan sejumlah persona: Layla dan Majnun dalam tradisi Timur. Lainnya adalah Romeo dan Juliet dari Barat. Dua insan yang pertama disebutkan digambarkan menjalin kasih sayang meski tidak bersatu dalam mahligai pernikahan. Apakah berzina? Tidak!

Dalam keterpisahan, mereka membuat bait-bait puisi menyentuh hati sebagai ekspresi kerinduan yang terpendam. Dalam kesendirian, mereka masing-masing memfokuskan diri beribadah kepada Sang Ilahi, se hingga untaian kata yang tertulis bernuansa spiritualis: Menunjukkan kelemahan hamba dan berharap kekuasaan Allah.

Cinta pertama kali di bumi dirasakan oleh Nabi Adam dan Hawa, sepasang manusia awal. Setelah memakan buah terlarang, mereka terlempar ke bumi. Di sana mereka terpisah dalam waktu lama. Keduanya kembali bertemu sebuah bukit di Arafah, yang kini dinamakan Bukit Kasih Sayang atau Jabal Rahmah.

Dari sana mereka berjalan kaki menuju Ka'bah untuk bertawaf. Namun, di pertengahan jalan keduanya kelelahan, sehingga beristirahat dan tertidur di Muzdalifah. Setelah sadar mereka melanjutkan perjalanan untuk tawaf, memohon ampunan kepada Sang Pencipta. Pengalaman mereka kini diabadikan dalam ritual haji yang dilak sanakan setiap tahun.

Adalagi kisah cinta Zulaikha yang penuh nafsu terhadap Yusuf. Wanita itu tak henti- henti mengejar sang nabi. Namun, putra Ayyub tersebut tak memedulikan. Hingga suatu saat Zulaikha benar-benar mengikhlaskan dirinya kepada Allah, barulah Yusuf melirik, bahkan meminangnya.

Banyak lagi kisah percintaan baik yang nyata maupun fiksi. Perasaan ini juga tertanam dan dialami setiap insan dari berbagai zaman. Istilah cinta selalu terbesit dalam hati dan selalu menjadi pembicaraan hangat.

Filsuf Plato menjelaskan, dia yang merasakan cinta tak akan berjalan di kegelapan.
Cinta membimbing seseorang dalam hidup. Dia menjadi wasilah seseorang untuk mencurahkan segala potensinya untuk orang lain yang disayangi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA