Sabtu, 23 Zulhijjah 1440 / 24 Agustus 2019

Sabtu, 23 Zulhijjah 1440 / 24 Agustus 2019

DD Targetkan Bangun 15 Ribu Balai Nyaman di Lombok

Kamis 06 Sep 2018 16:38 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Andi Nur Aminah

Rumah Hunian Sementara (RHS) di Desa Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Rumah Hunian Sementara (RHS) di Desa Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Foto: Republika TV/Muhammad Nursyamsyi
Balai nyaman atau hunian sementara dibangun dengan model tahan gempa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dompet Dhuafa sedang membangun rumah hunian sementara atau balai nyaman di Kabupaten Lombok Utara, Lombok Timur dan Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Target Dompet Dhuafa membangun 10 ribu sampai 15 ribu unit balai nyaman untuk korban bencana gempa bumi di Pulau Lombok.

General Manager Ekonomi, Dakwah dan Layanan Tanggap Darurat Dompet Dhuafa, Benny mengatakan, Dompet Dhuafa akan membangun 100 unit balai nyaman di setiap desa. Pada tahap awal pembangunan balai nyaman akan dilakukan di tiga desa di tiga kabupaten. Jadi akan dibangun 300 unit balai nyaman di tiga desa pada tahap awal.

"Target kita membangun 10 ribu sampai 15 ribu balai nyaman, yang kita persiapkan (di tahap awal) 300 balai nyaman, ada penambahan 1.000 balai nyaman lagi dalam waktu dekat," kata Benny kepada Republika.co.id, Kamis (6/9).

Ia menerangkan, sekarang ada 70 unit balai nyaman yang sudah siap huni di Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Dalam satu kawasan akan dibangun 100 unit balai nyaman yang dilengkapi fasilitas mandi, cuci dan kakus (MCK) umum. Kawasan juga akan difasilitasi dengan pengadaan air bersih, mushola dan ruang serbaguna.

Ruang serbaguna bisa digunakan untuk tempat pengajian, bermain anak, kumpul warga, pendidikan nonformal dan pendidikan pengetahuan kebencanaan. Jadi satu kawasan balai nyaman difasilitasi dengan lengkap.

Benny menjelaskan, satu unit balai nyaman bisa dihuni satu keluarga. Ukurannya 4,8 x 4,8 meter dan dilengkapi satu kamar untuk ruang privasi penyintas. Sebab selama mereka tinggal di tenda pengungsian, tidak ada ruang privasi buat orang dewasa. Jika kondisi seperti ini dibiarkan dalam waktu lama, maka akan berpengaruh terhadap psikologi mereka.

"Balai nyaman kita bangun dengan konsep supaya bukan hanya sekadar tempat untuk bernaung secara fisik, tetapi secara psikis mereka juga merasa nyaman," ujarnya.

Dia juga menyampaikan, rumah balai nyaman sudah teruji antigempa. Waktu gempa bumi beberapa waktu lalu, bangunan rumah balai nyaman dapat bertahan dari gempa. Jadi masyarakat yang tinggal di balai nyaman dapat merasa tenang.

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA