Senin 20 Aug 2018 12:30 WIB

Pesona Masjid Merah Kolombo

Masjid ini tetap kokoh saat tsunami terjadi pada 2004 lalu.

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
Masjid Jamiul Alfar
Masjid Jamiul Alfar

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Pulau Sri Lanka telah menjadi suatu pusat perniagaan di rute Samudra Hindia. Para pelaut Arab diketahui ber labuh di sana setidak-tidaknya sejak zaman permulaan Islam. Mereka membawa pelbagai komoditas unggulan dari Cina, Nusantara, dan India untuk selanjutnya dijual ke pasar-pasar Asia Barat dan Eropa.

Kini, Sri Lanka lebih dikenal sebagai negara berpenduduk mayoritas Buddha. Akan tetapi, jejak-jejak peradaban Islam tidak luntur mewarnai kebudayaan setempat. Masjid Raya Ul Alfar merupakan salah satu pencapaian tinggi arsitektur Islam yang masih terus terjaga sampai saat ini. Ba ngunan indah itu terletak di Jalan Perlintasan Kedua, Pettah, Colombo.

Masjid Raya Ul Alfar punya beberapa nama alias, yakni Rathu Palliya, Samman Kottu Palli, yang secara harfiah berarti mensyukuri rahmat, dan Masjid Merah. Nama yang kedua dapat juga dimaknai sebagai rumah ibadah untuk etnis Muslim India. Adapun sebutan yang terakhir tampaknya cukup beralasan. Sebab, keseluruhan masjid ini didominasi warna selang-seling merah dan putih, dengan bentuk gradasi yang bermacam-macam.

photo
masjid Jamiul Alfar

Berdasarkan keterangan dari situs resminya, redmasjid.com, Masjid Raya Ul Al far merupakan masjid yang tertua di seluruh Colombo, ibu kota komersial Sri Lan ka. Sejarahnya bermula pada 1908 ketika komunitas Muslim setempat menginisiasi pendirian sebuah rumah ibadah.

 

Tujuannya bukan semata-mata untuk memfasilitasi mereka, melainkan juga orang-orang luar yang hendak menunaikan shalat di Colombo. Sebagai informasi, kawasan itu juga terkenal akan pelabuhan dan pasarnya yang ramai dikunjungi para pelaut dan pedagang dari mancanegara, bahkan sejak abad ketujuh.

Proyek pembangunan Masjid Raya Ul Alfar selesai pada 1909. Penyandang dananya berasal dari kalangan imigran India yang tinggal di Pettah. Mereka membentuk sebuah kepanitiaan, yang lantas meng undang Habibu Labbe Saibu Labbe sebagai arsitek.

photo
Masjid Jamiul Alfar

Saibbu Labbe dinilainya mampu menerjemahkan visi hibrid India-Andalusia ke dalam sketsa bangunan. Pemilihan India jelas dilatari identitas asal pihak pembangun masjid. Adapun Andalusia terpilih karena itulah salah satu budaya besar yang tercatat dalam sejarah peradaban Islam.

Persilangan budaya antara India dan Andalusia menjadi tema utama arsitektur masjid ini. Selang-seling merah dan putih menyerupai warna khas yang terdapat pada lengkung penghubung pilar-pilar Masjid Agung Kordoba di Spanyol.

Lantaran kombinasi dua warna tersebut, penampakan masjid ini disebut-sebut mirip permen karamel. Sementara itu, corak khas India tentu saja menonjol dari bentuk kubah yang menguncup, gerbang, birai jendela, dan denah masjid yang juga cagar budaya nasional ini. Salah satu menara di sana dihiasi dengan jam besar yang penunjuk waktu bagi para pengguna jalan.

photo
Masjid Jamiul Alfar Kolombo, Sri Langka.

Masjid Merah awalnya terdiri atas dua lantai. Kapasitasnya semula dapat menampung 1.500 orang jamaah. Akan tetapi, pada 1975 Haji Omar Trust, seorang saudagar Mus lim di sana, membeli beberapa lahan seki tarnya untuk memperluas area kompleks masjid itu.

Renovasi dimulai sejak 2007. Setelah pembenahan tuntas, daya tampung Masjid Raya Ul Alfar diprediksi dapat mencapai 10 ribu pengunjung. Tinggi bangunannya pun akan ditingkatkan menjadi empat lantai, termasuk di dalamnya fasilitas penunjang, seperti eskalator untuk membantu jamaah yang memiliki keterbatasan fisik.

photo
Masjid Jamiul Alfar

Rancang bangun Masjid Raya Ul Alfar mengingatkan akan Masjid Jamek di Kuala Lumpur, Malaysia. Untuk diketahui, kedua masjid tersebut dibangun pada masa yang tidak terlampau jauh.

Baik Masjid Merah maupun masjid karya arsitek Arthur Benison Hubback itu sama-sama selesai dikerjakan pada 1909. Akan tetapi, tidak ada penjelasan lebih jauh tentang mana di antara keduanya yang gaya arsitekturnya memengaruhi atau terpengaruhi.

Tradisi Lokal Memakmurkan Masjid

Masjid Raya Ul Alfar bukan hanya tempat menunaikan ibadah wajib, melainkan juga sentra aktivitas dakwah dan pendidikan Islam. Komunitas Muslim setempat amat bangga dengan masjid ini. Mereka memiliki tradisi- tradisi lokal yang bertujuan memakmurkan rumah Allah itu.

Misalnya, ketika ribuan orang jamaah menyelenggarakan shalat dengan dipimpin perwakilan generasi penerus yang hafiz. Pada tahun 1920, 1933, 1950, dan 1976, imam muda masjid itu menamatkan seluruh 30 juz Alquran ketika memimpin shalat berjamaah dua rakaat.

photo
Masjid Jamiul Alfar

Pada 26 Desember 2004 lalu, gempa bumi yang diikuti tsunami mengguncang Samudra Hindia, khususnya pesisir Aceh, Indonesia. Namun, getarannya menjalar ke negeri-negeri tetangga. Sri Lanka termasuk yang paling terimbas gelombang dahsyat itu.

Lebih dari 30 ribu warga setempat menjadi korban tewas. Hanya berkat rahmat dan ridha Allah semata, Masjid Raya Ul Alfar tetap kokoh berdiri. Setelah sapuan air laut mereda, masjid ini kemudian menjadi tempat berlindung bagi para pengungsi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement