Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Superqurban, Energi Berkelanjutan dari Rumah Zakat

Jumat 27 Jul 2018 12:00 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Andi Nur Aminah

Relawan Rumah Zakat mengantarkan rendang Superqurban ke warga lansia di Dusun Purbasari, Pengalengan.

Relawan Rumah Zakat mengantarkan rendang Superqurban ke warga lansia di Dusun Purbasari, Pengalengan.

Foto: Rumah Zakat
Rumah Zakat juga konsen dalam bidang ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat .

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Tepat 2 Juli 1998, Rumah Zakat yang dulu bernama Dompet Sosial Ummul Quro (DSUQ) hadir bersinergi mengatasi masalah sosial masyarakat. Kini, 20 tahun sudah Rumah Zakat mengabdikan diri menjalankan amanah zakat, infaq, sedekah kepada lebih dari 27 juta Penerima Layanan Manfaat (PLM).

PLM terdiri dari 9.268.338 bidang kesehatan, 5.933.392 bidang pendidikan, 4.159.213 bidang ekonomi dan 8.049.985 bidang lingkungan yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Beragam program pemberdayaan telah dilakukan.

Mulai bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lingkungan diimplementasikan ke 1.194 Desa Berdaya di 207 kabupaten/kota. Saat ini, Rumah Zakat telah memiliki banyak sarana dan prasarana untuk melayani masyarakat. "Ada delapan Klinik Pratama, 51 Ambulance, 20 Mobil Klinik, 18 Sekolah Juara dan dua Mobil Juara. Semuanya berasal dari dana zakat, infak dan sedekah para donatur," kata CEO Rumah Zakat, Nur Efendi, Jumat (27/7).

Rumah Zakat juga konsen dalam bidang ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat melalui optimalisasi program ibadah kurban. Utamanya, pemenuhan gizi dengan sumber protein bagi penerima manfaat.

Dengan gizi seimbang, masyarakat desa akan memiliki energi lebih produktif, maju, dan berdaya. Menurut Nur, berdasarkan data OECD 2015, tingkat konsumsi daging di Indonesia saat ini masih rendah. Angkanya hanya 11,6 kilogram per kapita per tahun.
Padahal, angka ideal konsumsi daging sebanyak 34,19 kilogram per kapita per tahun. Artinya, kita jauh di bawah Vietnam, Malaysia dan Thailand untuk konsumsi daging. "Jika hal ini tidak dicarikan solusi, upaya pemberdayaan yang kita lakukan akan memiliki kedala yang cukup besar," ujar Nur.

Salah satu upaya yang dilakukan Rumah Zakat sejak 2000 melalui pengelolaan daging kurban menjadi kornet dan rendang yang dikenal dengan Superqurban. Idul kurban dapat menjadi momentum tepat menghadirkan sumber protein hawani.

Melalui Superqurban, daging kurban dapat dioptimalkan jadi cadangan makanan sebagai ikhtiar terwujudnya ketahanan pangan Indonesia dan dunia. Ini yang disebutnya energi berkelanjutan. "Daging kurban kita akan salurkan ke Desa Berdaya yang ada di 30 provinsi di Indonesia, dan wilayah-wilayah rawan pangan, sebagai persediaan pangan sumber protein hewani bagi masyarakat," kata Nur.

Hingga kini, sebanyak 4,2 juta kaleng Superqurban telah didistribusikan di Indonesia dan mancanegara. Total penerima manfaat lebih dari dua juta dengan total penerima manfaat lebih dari dua juta.

"Selain disalurkan ke 34 provinsi di Indonesia, Superqurban Rumah Zakat telah pula menjangkau Palestina, Filipina, Nepal, Myanmar, Bangladesh, Somalia, dan Suriah," ujar Nur. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA