Sabtu 26 May 2018 16:59 WIB

Pengrajin di Afganistan Cetak Mushaf Alquran dari Kain Sutra

Alquran berbahan kain sutra itu berisikan 610 halaman.

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Agung Sasongko
Alquran
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Satu-satunya salinan Alquran yang pernah dibuat dari kain sutra telah rampung diciptakan di Afganistan. Prestasi tersebut diharapkan para penciptanya akan membantu melestarikan tradisi kaligrafi yang sudah berusia berabad-abad di negara itu.

Alquran berbahan kain sutra itu berisikan 610 halaman. Setiap lembar halamannya diproduksi dengan tangan dalam proses yang penuh ketelitian. Untuk menciptakan Alquran demikian, setidaknya 38 kaligrafer dan seniman yang mengkhususkan diri dalam miniatur terlibat selama hampir dua tahun untuk menyelesaikannya.

Pinggiran Alquran tersebut terbuat dari kulit kambing dan memiliki berat 8,6 kg (19 pon). Salinan Alquran diproduksi oleh pengrajin Afganistan, yang banyak dari mereka dilatih di Yayasan Inggris Turquoise Mountain di Kabul.

Seorang kaligrafer bernama Khwaja Qamaruddin Chishti (66) mengatakan, bahwa mereka berniat untuk memastikan bahwa kaligrafi tidak mati di Afganistan. Menurutnya, menulis adalah bagian dari budaya mereka. Alquran merupakan teks yang suci dan kaligrafi sangat dihargai dalam seni Islam.

"Ketika Alquran datang ke dalam seni, kita tidak bisa memberi harga pada itu. Tuhan telah mempercayakan kita dengan pekerjaan ini (Alqur'an), dan ini lebih berarti bagi kita daripada aspek keuangan," kata Chishti, dilansir di Saudi Gazette, Sabtu (26/5).

Dengan menggunakan pena tinta bambu atau buluh, Christi dan teman-teman kaligrafernya menghabiskan waktu hingga dua hari untuk menyalin ayat-ayat suci Alquran ke dalam satu halaman secara hati-hati. Terkadang, dibutuhkan waktu yang lebih lama jika mereka membuat kesalahan dan terpaksa harus memulainya kembali.

Mereka menggunakan skrip Naskh, gaya kaligrafi yang dikembangkan di era awal Islam untuk menggantikan Kufic, karena lebih mudah dibaca dan ditulis. Hiasan di sekitar naskah, yang dikenal sebagai iluminasi, lebih memakan waktu. Karena setiap halaman membutuhkan waktu lebih dari satu pekan untuk diselesaikan.

Sebuah tim seniman menggunakan cat yang terbuat dari bahan-bahan alami, termasuk lapis tanah, emas dan perunggu, untuk menciptakan pola-pola halus yang populer selama dinasti Timurid pada abad ke-15 dan 16 di kota barat Herat.

"Semua warna yang kami gunakan berasal dari alam," kata seorang seniman miniatur yang bertanggung jawab untuk menciptakan warna-warna cerah yang digunakan dalam Alqur'an, Mohammad Tamim Sahibzada, kepada AFP.

Sahibzada mengatakan, mengerjakan Alquran dalam kain sutra untuk pertama kalinya sangat menantang. Bahan yang bersumber secara lokal, yang kesemuanya 305 meter (1.000 kaki), diproses dalam larutan yang terbuat dari biji kering dari ispaghula atau psyllium, agar tinta tidak menyebar.

Turquoise Mountain mulai bekerja pada 2006 di Kabul. Lembaga ini bertujuan untuk melestarikan kerajinan Afghan kuno, termasuk keramik, pertukangan kayu, dan kaligrafi.

Yayasan ini berharap salinan Alqur'an berbahan sutra akan menghasilkan lebih banyak permintaan akan teks agama Islam buatan tangan. Sehingga, hal itu dapat menciptakan lapangan kerja bagi para pengrajinnya dan membantu keuangan lembaga tersebut.

"Kami akan menunjukkannya ke negara-negara Islam lain untuk melihat apakah mungkin untuk menciptakan peluang kerja bagi para lulusan untuk bekerja pada Alquran lain," kata direktur organisasi tersebut di Afganistan, Abdul Waheed Khalili.

Untuk saat ini, Alquran berbahan sutra tersebut akan disimpan dalam kotak kayu walnut yang dibuat dengan ukiran khusus untuk melindungi halaman-halamannya yang halus dari berbagai elemen. Kotak kayu itu akan disimpan di kantor-kantor Turquoise Mountain, yang berada di Murad Khani, sebuah kawasan komersial dan perumahan bersejarah di distrik tertua di Kabul. Di sana, Turquoise Mountain telah melatih ribuan pengrajin dengan dukungan Pangeran Charles di Inggris, British Council, dan USAID.

"Menyalin Alqur'an ke dalam bahan sutra sangat langka," kata direktur Turquoise Mountain di Afganistan, Nathan Stroupe.

Dia mengatakan, proyek tersebut merupakan cara luar biasa untuk melatih siswa mereka pada tingkat yang sangat tinggi dalam jenis pekerjaan yang sangat tradisional. Jika pangeran Saudi atau kolektor buku di London tertarik dengan itu, ia mengatakan pihaknya akan berpikir untuk menghargai Alquran tersebut dalam kisaran harga 100 ribu dolar hingga 200 ribu dolar. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement