Senin 09 Apr 2018 19:17 WIB

Menperin Optimistis Indonesia Masuk Lima Besar Ekonomi Dunia

Keberhasilan Indonesia dibantu oleh bonus demografi.

Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto
Foto: RepublikaTV/Fakhtar Kahiron Lubis
Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto optimistis Indonesia masuk lima besar ekonomi dunia pada usia ke-100.  Salah satunya ditopang melalui kinerja gemilang dari industri nasional.

Peluang besar tersebut, juga didukung bonus demografi atau peningkatan jumlah penduduk usia produktif pada 2020-2030."Sehingga nanti pada 100 tahun Indonesia merdeka tahun 2045, Insya Allah Indonesia akan masuk lima negara ekonomi terbesar di dunia," kata Airlangga melalui keterangannya di Jakarta, Senin.

Bahkan berdasarkan hasil riset PricewaterhouseCoopers (PwC), salah satu penyedia jasa auditor besar di dunia, posisi perekonomian Indonesia di peringkat ke-5 dunia diprediksi lebih cepat pada 2030 dengan estimasi nilai Produk Domestk Bruto (PDB) 5,424 miliar dolar AS.

 

Baca juga,  Jokowi Dorong Generasi Muda Hadapi Revolusi Industri 4.0.

 

Sementara pada 2050, peringkat ekonomi Indonesia bakal naik menjadi ke-4 dunia dengan perkiraan nilai PDB 10,502 miliar dolar AS yang dihitung melalui metode Purchasing Power Parity (PPP).

Menurut riset PwC ini, Indonesia dinilai sebagai big emerging market karena merupakan negara dengan perekonomian terkuat di Asia Tenggara."Untuk mencapai sasaran tersebut, tentunya perlu perjuangan dan kerja keras. Sehingga, optimisme harus didorong oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia," tegas Menperin.

Oleh karenanya, melalui peta jalan Making Indonesia 4.0, Indonesia telah memiliki strategi dan arah yang jelas dalam upaya meningkatkan daya saing industri manufaktur nasional di tengah memasuki era digital.

Salah satu langkah awal yang sudah dijalankan, Kementerian Perindustrian turut memacu kompetensi sumber daya manusia (SDM) lewat peluncuran program pendidikan kejuruan industri di beberapa wilayah di Indonesia.

Dengan mengusung konsep  "link and match" antara Sekolah Menengah Kejuruan dengan industri, diharapkan dapat mudah mencetak tenaga kerja sesuai kebutuhan dunia industri saat ini.

"Guna menggenjot daya saing industri, harus didukung dengan pendidikan, terutama kompetensi tenaga kerjanya. Kemudian, diperlukan kegiatan untuk menciptakan inovasi dan menerapkan teknologi terkini, di mana dua hal tersebut sangat ditopang oleh pendidikan dan dana untuk melaksanakan itu," paparnya.

Airlangga mengungkapkan, saat memasuki momentum bonus demografi, beberapa negara mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Misalnya, Jepang yang mampu tumbuh 5,5 persen, China hingga mencapai 9,2 persen, Singapura meraih 7,3 persen, dan Thailand sekitar 4,8 persen.

"Untuk itu, kita harus manfaatkan peluang emas tersebut. Kita bisa petik hasilnya pada tahun 2030," tuturnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement