Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Adab Bercanda dalam Islam (Bagian 2-Habis)

Jumat 06 Apr 2018 06:59 WIB

Red: Agung Sasongko

Dua orang tertawa bersama. Ilustrasi

Dua orang tertawa bersama. Ilustrasi

Foto: Rita D/Flickr/hiveminer.com
Islam memiliki panduan dalam bercanda.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seringkali,  ada sebagian orang yang suka bercanda bersama sahabatnya dengan cara menakut-nakuti, seperti menggunakan topeng yang menakutkan, berteriak dalam kegelapan atau menyembunyikan barang milik temannya. Bercanda seperti itu, menurut Syekh as-Sayyid Nada, dilarang agama.

Rasulullah SAW bersabda, ''Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya baik bercanda maupun bersungguh-sungguh.'' (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Dalam hadis lainnya, Nabi SAW bersabda, ''Tidak halal bagi seorang Muslim membuat takut Muslim yang lain.'' (HR Abu Dawud).

Selain tak boleh menakuti dan menyembunyikan barang orang lain ketika bercanda, Rasulullah SAW pun mengajarkan kepada umatnya untuk tak berbohong.  Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tak mengatakan kecuali yang benar.'' (HR ath-Thabrani).

''Diharamkan pula melecehkan sekelompok orang tertentu, penduduk daerah tertentu atau orang dengan profesi tertentu dan menyebut aib mereka dengan tujuan bercanda dan membuat orang tertawa,'' papar Syekh as-Sayyid Nada menegaskan.

Keenam, menjauhi bercanda dengan tangan dan kata-kata yang buruk. Menurut Syekh as-Sayyid Nada,  sebagian besar manusia tak menyukai bercanda dengan tangan dan kata-kata kotor.  Akibat bercanda dengan cara itu, tak sedikit gurauan dengan seorang sahabat bisa berujung permusuhan dan pertengkaran.

Syekh as-Sayyid Nada, mengungkapkan, tak sepatutnya seorang Muslim bercanda dengan tangan kecuali dengan orang yang terbiasa melakukan itu dan bisa menerimanya. ''Sebagaimana para sahabat Nabi SAW mereka saling melempar kulit buah semangka setelah memakannya,'' tuturnya mengutip hadis yang diriwayatkan al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad.

Ketujuh, tak banyak tertawa. Menurut Syekh as-Sayyid, kebanyakan orang terlalu berlebihan tertawa sehingga terpingkal-pingkal ketika bercanda. Hal itu, menurut dia, bertentangan dengan sunah Nabi SAW yang meminta umatnya agar tak tertawa secara berlebihan.  Nabi SAW bersabda, ''Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.'' (HR at-Tirmidzi).

Kedelapan,  bercanda dengan orang-orang yang membutuhkannya. Rasulullah sering bercanda dengan anak-anak. Ada beberapa hadis yang mengisahkan cara Nabi SAW bercanda. Salah satunya: Dari Anas RA, datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW dan berkata, ''Wahai Rasulullah, bawalah aku? Nabi kemudian bersabda, ''Kami akan membawamu di atas anak unta.''

Laki-laki itu berkata, ''Apa yang bisa aku lakukan dengan anak unta?'' Rasulullah SAW pun bersabda, ''Bukankah unta dewasa pun anak unta?'' (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).  Begitulah Islam mengatur adab bercanda. Sehingga, senda gurau yang dilakukan  seorang Muslim dengan sahabatnya dapat menyegarkan jiwa dan semangat.

sumber : Dialog Jumat Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA