Sabtu 10 Mar 2018 05:17 WIB

Lebih Dekat dengan Kota Syingith

Kota ini menjadi sentran dakwah di Afrika.

Kota Chinguetti, Mauritania
Foto: Amusing Planet
Kota Chinguetti, Mauritania

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA --Dahulu kala, dataran tinggi Adrar merupakan padang rumput yang luas di Afrika barat. Ribuan tahun lamanya, wilayah ini dihuni para peternak dan pemburu yang hidup secara nomaden. Menurut Anthony G Pazzanita dalam bukunya, Historical Dictionary of Mauritania, keadaan tersebut mulai berubah pada abad ketiga. Sanhadja alias Iznagen mulai menduduki Adrar.

Persekutuan ini terdiri atas beberapa suku Berber, penduduk asli Afrika utara. Mereka menjadikan daerah ini kota transit yang terhubung dengan jalur perniagaan di Gurun Sahara (Trans-Sahara). Sejak saat itu, kebudayaan urban mulai terbentuk. Bangunan-bangunan penduduk menggantikan pemandangan hamparan rumput.

Sekitar pesisir Afrika barat kaya akan emas dan garam. Kekayaan ini menarik perhatian kafilah-kafilah dari luar Afrika, termasuk bangsa Arab. Para saudagar Arab telah merintis perdagangan ke daerah ini jauh sebelum kelahiran Rasulullah SAW. Sesudah wafatnya sang Khatamul Anbiya, Islam menyebar luas secara berangsurangsur dan damai melalui jalur perniagaan.

Demikian menurut laporan BBC, "The Story of Africa". Orang-orang Arab menyebut wilayah Adrar yang dikuasai Iznagen sebagai Syingith (bahasa Inggris: Chinguetti). Sekarang, Kota Syingith termasuk wilayah Negara Mauritania.

Di luar Iznagen, Kerajaan Awkar mulai berekspansi dari selatan atau pesisir Teluk Guinea. Tidak ada yang tahu pasti kapan wangsa ini bermula. Raja-raja Awkar bergelar Ga'na atau Ghana. Penulis yang pertama kali menyebutkan Ghana adalah pakar astronomi Persia, Ibrahim al-Farazi (wafat 777), dan belakangan sarjana yang juga pakar matematika, al-Khwarizmi pada 830. Intinya, mereka menegaskan para Ghana menguasai suatu kerajaan yang makmur di Afrika barat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement