Kamis 08 Mar 2018 21:20 WIB

Gelar Ngobrol Kemanusiaan, ACT: Selamatkan Ghouta

urusan kemanusiaan tidak hanya tugas dari lembaga kemanusiaan.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agung Sasongko
Aksi Cepat Tanggap (ACT) menggelar acara Ngobrol Kemanusiaan bertajuk Selamatkan Ghouta di Kemang, Jakarta, Kamis (8/3). Dapur umum ACT di Ghouta Suriah memproduksi 20 ribu paket makanan per hari.
Foto: Republika/Fuji E Permana
Aksi Cepat Tanggap (ACT) menggelar acara Ngobrol Kemanusiaan bertajuk Selamatkan Ghouta di Kemang, Jakarta, Kamis (8/3). Dapur umum ACT di Ghouta Suriah memproduksi 20 ribu paket makanan per hari.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Aksi Cepat Tanggap (ACT) menggelar Ngobrol Kemanusiaan bertajuk Selamatkan Ghouta di Kemang, Jakarta pada Kamis (8/3). Mereka membicarakan krisis kemanusiaan di Suriah, khususnya di wilayah Ghouta Timur.

Acara tersebut dihadiri Tere seorang musisi solo, Pizaro seorang Redaktur Eksekutif Kantor Berita Turki Anadolu Agency, dan mantan musisi Madmor Abu Taqo serta komikus Tony Trax. Mereka hadir sebagai pribadi yang peduli terhadap krisis kemanusiaan yang melanda Ghouta.

Musisi solo, Tere mengatakan, urusan kemanusiaan tidak hanya tugas dari lembaga kemanusiaan. Semua umat manusia sejatinya punya peran yang sama untuk membantu sesama manusia. Kondisi Ghouta saat ini adalah sebuah duka kemanusiaan.

"Bagi saya Ghouta adalah duka kemanusiaan, pertanyaannya apakah kita masih layak disebut manusia jika membiarkan mereka berurai darah dan air mata?," kata Tere saat menghadiri acara ACT di Kemang, Kamis (8/3).

Ia menyampaikan, semua orang bisa melakukan apapun untuk Ghouta. Salah satu caranya, menggunakan akun media sosial yang menjadi corong untuk berbicara tentang Ghouta. Akun media sosial jangan hanya diisi dengan updatemakanan, teman-teman di Suriah belum tentu bisa makan sehari sekali.

Ia berharap, publik figur seperti musisi dan artis terkenal yang mempunyai banyak follower ikut memperhatikan krisis di Ghouta. Supaya menjadi isu bersama, Indonesia punya potensi untuk menggerakkan dengan cara bersuara dan bertindak.

"Saya juga sudah berusaha membantu secara langsung, namun bentuknya tidak ingin disampaikan karena pesan dari ibu saya dulu ketika tangan kanan memberi jangan diberitahu tangan kiri," jelasnya.

Redaktur Eksekutif Kantor Berita Turki Anadolu Agency, Pizaro menyampaikan pandangannya dari sudut pandang jurnalis. Ia mengharapkan para jurnalis bisa produktif mengabarkan krisis kemanusiaan yang terjadi di Ghouta Timur.

Selama ini media baru mengangkat soal isu kemanusiaan ketika ada peristiwa. Padahal Ghouta adalah peristiwa itu sendiri. "Sudah sejak lama, Ghouta terkepung dan mengharapkan uluran bantuan kemanusiaan," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement