Jumat 16 Feb 2018 22:07 WIB

Waspadai Konflik Internal Penganut Agama

Penyelesaian atas konflik ini relatif lebih sulit mengatasinya dibanding antaragama.

Pengunjuk rasa membentangkan spanduk saat sidang lanjutan terdakwa kasus dugaan penistaan (Ilustrasi)
Foto: ANTARA
Pengunjuk rasa membentangkan spanduk saat sidang lanjutan terdakwa kasus dugaan penistaan (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANJARBARU -- Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Kalimantan, mewaspadai munculnya konflik internal yang terjadi di antara penganut satu agama. Pasalnya, penyelesaian atas konflik ini relatif lebih sulit mengatasinya.

"Konflik yang kami waspadai bukan antarumat beragama, tetapi justru konflik internal penganut satu agama," ujar Ketua FKUB Banjarbaru Muslih Amberi di Kota Banjarbaru, Jumat (16/2).

Muslih mengatakan, konflik internal yang sering muncul antara penganut satu agama adalah perbedaan mahzab atau paham sehingga mereka saling berbeda pendapat dan menimbulkan konflik. Dicontohkan, konflik internal seperti yang terjadi antara penganut agama Islam atau agama kristen yang berbeda pandangan terhadap suatu masalah sehingga memunculkan konflik.

"Konflik internal seperti itu yang justru sering terjadi dan langkah menanganinya juga cukup sulit karena mereka berbeda pandangan, padahal menganut agama yang sama," ungkapnya.

Ditekankan, langkah yang dilakukan FKUB jika terjadi konflik internal adalah mempertemukan keduabelah pihak sebagai upaya mendinginkan suasana sehingga konflik mereda. "Kami bersama seluruh pengurus FKUB lainnya siap menjadi fasilitator termasuk menengahi konflik yang terjadi antar penganut agama sehingga tidak semakin meluas," ucapnya.

Menurut dosen senior Fakultas FISIP Universitas Lambung Mangkurat Kalsel itu, konflik antarumat beragama yang berdampak terhadap perpecahan justru tidak terlihat di Banjarbaru. "Potensi konflik antarumat beragama di Banjarbaru justru kecil meski pun kota ini dihuni beragam suku dan agama yang berbeda tetapi kerukunan antarumat sangat terjaga," ujarnya.

Meski pun demikian, pihaknya tidak meremehkan setiap potensi yang bisa saja terjadi sehingga siap membangun koordinasi dengan lembaga keagamaan maupun forum lingkup RT/RW. "Kami akan menjalin komunikasi dan koordinasi dengan lembaga keagamaan tingkat kecamatan termasuk pengurus RT/RW karena mereka yang mengetahui masalah dan wilayahnya," kata dia.

Sebelumnya, kepengurusan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Banjarbaru dan dewan penasehat masa bakti 2018-2023, Selasa (13/2) dilantik Wali Kota Nadjmi Adhani.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement