Ahad 04 Feb 2018 01:12 WIB

Ketika KB Masih Jadi Kontroversi di Arab Saudi

Beberapa melihatnya sebagai ancaman bagi kelangsungan hidup masyarakat.

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Agus Yulianto
 Wanita Arab Saudi bersama anaknya.     (ilustrasi)
Foto: EPA/STR
Wanita Arab Saudi bersama anaknya. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB baru-baru ini mengeluarkan sebuah laporan yang memproyeksikan penduduk Kerajaan Arab Saudi akan mencapai 37,2 juta pada 2020. Sementara daerah pedesaan di seluruh negeri tersebut memang telah mengalami peningkatan populasi yang dramatis.

Kendati demikian, keluarga berencana (KB) sebagai alat penting untuk menghadapi dampak potensial dari pertumbuhan penduduk, masih menjadi isu kontroversial di Arab Saudi. Beberapa melihatnya sebagai ancaman bagi kelangsungan hidup masyarakat. Sementara yang lain menganggapnya sebagai kebutuhan sosial.

photo
Peneliti Temukan Alat Kontrasepsi Pria (Ilustrasi)

Namun, banyak orang melihat, pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali sebagai ancaman bagi pembangunan. Karena kelebihan populasi dapat menghentikan pembangunan negara secara keseluruhan, lantara menghabiskan banyak biaya untuk perawatan kesehatan dan pendidikan.

Apakah ada alasan Syariah untuk melarang keluarga berencana atau apakah ini menjadi kebutuhan bagi perkembangan masyarakat yang sehat?. Surat kabar Al-Riyadh bertemu dengan sejumlah ahli untuk menjelaskan isu-isu mendasar berkaitan dengan keluarga berencana di Arab Saudi.

Seorang penulis bernama Dr Roshood Al-Khareef mengatakan, bahwa KB sebagai sebuah pilihan telah diserahkan kepada kebijaksanaan masing-masing keluarga dan pemerintah tidak memiliki pendapat mengenai masalah tersebut. "Saya yakin pemerintah harus melakukan sesuatu terhadap hal itu. Misalnya, bisa memberi keluarga insentif untuk mengadopsi keluarga berencana sebagai cara hidup. Harus ada ekuilibrium antara pertumbuhan penduduk dan momentum pembangunan," kata Al-Khareeef, dilansir dari Saudi Gazette, Sabtu (3/2).

Menurut Al-Khareef, pengendalian populasi masih menjadi isu kontroversial di Kerajaan Saudi. Banyak orang percaya bahwa keluarga-lah yang harus memutuskan berapa banyak anak yang akan dimilikinya.

Jumana Al-Dakheel, seorang sosiolog, mengatakan, keluarga yang tidak dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya dan bergantung pada kegiatan amal, harus menerapkan KB sebagai pilihan untuk meringankan kondisi kehidupan yang sulit. Ia mengatakan, tujuan pernikahan adalah memiliki keluarga bahagia dengan anak-anak yang sehat.

"Tapi terkadang kondisi hidup yang keras membuat kita mempertimbangkan kembali pilihan memiliki lebih dari dua anak. Kita harus memikirkan nasib anak-anak itu sebelum kita melahirkannya. Keluarga berencana adalah salah satu pilihan terbaik bagi orang miskin," kata Al-Dakheel.

Seorang konsultan ginekologi, Dr Intisar Al-Talyouni merekomendasikan, agar ibu beristirahat tiga tahun setelah melahirkan anak pertama untuk memulihkan dan mendapatkan kembali energi sebelum bersiap-siap menghadapi kehamilan baru. Kata dia, jika seorang wanita tidak beristirahat sebentar setelah melahirkan pertama, bayi akan menjadi lebih rentan terhadap penyakit tertentu karena kekurangan gizi.

"Ibu yang telah menjalani operasi sesar sebaiknya beristirahat setidaknya tiga tahun sebelum hamil lagi," kata Al-Talyouni.

photo
seorang ibu melahirkan tiga anak kembar di Makkah.

Ia mengatakan, bahwa dirinya telah memperhatikan banyak pasangan muda yang menikah cenderung menunda memiliki anak pada tahun pertama perkawinan mereka. Terutama, jika kondisi keuangan mereka tidak stabil atau jika mereka belajar di luar negeri.

Sosiolog Muhammad Al-Hamza mengatakan, pengendalian kelahiran merupakan konsep baru pada masyarakat Saudi. Ia mengatakan, pengendalian kelahiran pada dasarnya tidak berarti bahwa keluarga harus memiliki jumlah anak yang lebih sedikit, melainkan berfokus pada selisih waktu antara persalinan.

"Populasi Saudi telah meningkat 86 persen dalam 20 tahun terakhir, dengan tingkat pertumbuhan mencapai 2,1 persen dibandingkan dengan tingkat global 1,1 persen. Tak ayal kondisi ekonomi yang lebih baik telah memperbaiki aspek kesehatan dan sosial bagi masyarakat dan mendorong keluarga untuk memiliki lebih banyak anak," kata Al-Hamza.

Namun demikian, ia mengatakan, penting bagi anggota masyarakat untuk mengerti dan menyadari bahwa memiliki lebih banyak anak dapat mempengaruhi cara anak-anak ini dibesarkan dan tumbuh. Menurutnya, saat ini, banyak keluarga tidak ingin memiliki anak dengan jumlah besar seperti di masa lalu karena keadaan yang telah berubah.

Ia mengatakan, para sosiolog harus membantu keluarga menyadari pentingnya membangun generasi produktif dan yang akan membawa banyak manfaat bagi negara. Seorang konselor keluarga, Nadia Naseer, mengatakan bahwa perkembangan kehidupan saat ini mengharuskan orang tua untuk lebih memperhatikan anak-anak mereka, karena kehidupan semakin rumit.

"Perubahan teknologi yang cepat telah membuat beberapa orang tua kehilangan kendali atas anak-anak mereka, karena semakin sulit untuk mengawasi anak-anak dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan mereka untuk mendiskusikan masalah yang berbeda," kata Naseer.

Maha Al-Qattan, seorang ahli sosiologi, percaya bahwa pengendalian kelahiran adalah pilihan tepat bagi kehidupan modern. Menurutnya, hal itu akan membantu orang tua meluangkan lebih banyak waktu bersama anak-anak mereka, memberi mereka dan membentuk karakter yang memberi manfaat bagi masyarakat. Dia meminta orang tua untuk mengadopsi cara baru dan modern untuk membantu membesarkan anak-anak mereka dengan benar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement